Road To South Africa 2010

Road To South Africa

Bola Resmi Piala Dunia


Telstar

Bola resmi Piala Dunia 1970 di Meksiko dan 1974 di Jerman Barat. Memiliki motif hitam putih dan lebih jelas terlihat oleh pemirsa televisi layar hitam-putih. Nama Telstar merupakan kependekan dari "television star". Telstar terdiri atas 12 bidang pentagon dan 20 bidang heksagon. Desain inilah yang kemudian menjadi desain dasar bola sepak. Sedangkan bola sebelumnya memiliki motif menyerupai bolavoli. Sebagai informasi tambahan, selain menggunakan Telstar, Piala Dunia 1974 juga menggunakan bola Adidas Challenge.

Tango Durlast

Bola resmi Piala Dunia 1978 di Argentina. Melalui serial bola Tango Durlast, Adidas memperkenalkan inovasi desain yang bertahan hingga 20 tahun kemudian. Inovasi itu berupa panel-panel segitiga yang menghiasi 12 lingkaran kulit bola. Pada masanya, Tango Durlast menjadi inovasi termahal sepanjang sejarah. Terbuat dari kulit asli dan dilapisi dengan kulit kedap air.

Tango Espana

Bola resmi Piala Dunia 1982 di Spanyol. Meskipun Adidas telah berusaha meningkatkan daya kedap air bola ini, namun kekurangan masih terlihat. Tango Espana, yang merupakan kelanjutan dari Tango sebelumnya, masih tidak kedap air sehingga mempengaruhi konsistensi gerakan bolanya dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Azteca

Bola resmi Piala Dunia 1986 di Meksiko. Menjadi bola sintetis murni pertama yang digunakan oleh FIFA dalam kejuaraan resmi. Desain pada kulit bola mengambil model arsitektur dan mural bangsa Aztec.

Etrusco Unico

Bola resmi Piala Dunia 1990 di Italia. Etrusco Unico juga menjadi bola resmi Euro'92 di Swedia. Namanya diambil dari karya seni zaman kuno bangsa Etruscan yang menghuni tanah Italia. Bola ini dihiasi motif tiga kepala singa Etruscan di tengah segitiga yang berjumlah 20 buah.

Questra

Bola resmi Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Bola ini ternyata banyak disukai sehingga Adidas memproduksi dua versi, yakni Questra Europa (digunakan dalam Euro'96 di Inggris) dan Questra Olympia (digunakan dalam Olimpiade Atlanta 1996). Dalam proses pembuatannya, Adidas berusaha menciptakan bola yang lebih ringan dan lebih responsif. Questra menggunakan lima bahan baku yang berbeda dan membungkusnya dengan polystyrene foam. Dengan desain seperti ini, Adidas Questra menjadi lebih tahan air dan memiliki tingkat akselerasi yang lebih tinggi apabila disepak. Generasi terakhir model ini adalah Questra Apollo yang digunakan sebagai bola resmi La Liga musim 1996-1997.

Fevernova

Bola resmi Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang. Fevernova merupakan pengembangan dari serial bola Adidas sebelumnya yakni Tango. Adidas Fevernova memiliki desain warna-warni dan tampilan yang revolusioner, disesuaikan dengan citra budaya bangsa Asia. Bola ini dinilai terlalu ringan dan dikecam karena lajunya yang sering sulit untuk dikendalikan. Fevernova diproduksi di Sialkot, Pakistan dan Maroko.

+TeamGeist

Bola resmi Piala Dunia 2006 di Jerman.

Terima kasih kepada www.footballove.com untuk gambar wallpaper bolanya...
Read More

Final Reports

1930 FIFA World Cup Uruguay
Date: 30 Juli 1930
Stadion: Estadio Centenario
City: Montevideo
Referee: Jean (John) L. Langenus (Belgia)
Spectacles: 93.000
Match: Uruguay 4 Argentina 2
Pencetak gol: Dorado (12), Peucelle (20), Stabile (37), Cea (57), Iriarte (68), Castro (89)

1934 FIFA World Cup Italy
Date: 10 Juni 1934
Stadium: Stadio Nazionale PNF
City: Roma
Referee: Ivan Eklind (Swedia)
Spectacles:
Match: Italia 2 Cekoslovakia 1
Pencetak gol: Puc (15), Orsi (20), Schiavio (95)

1938 FIFA World Cup France
Date: 19 Juni 1938
Stadium: Stade Olympique de Colombes
City: Paris
Referee: Georges Capdeville (Prancis)
Spectacles: 60.000
Match: Italia 4 Hungaria 2
Pencetak gol: Colaussi (6), (35), Titkos (8), Piola (16) (82), Sarosi (70)

1950 FIFA World Cup Brazil
Date: 16 Juli 1950
Stadium: Estadio do Maracana
City: Rio de Janeiro
Referee: George Reader (Inggris)
Spectacles: 173.850
Match: Uruguay 2 Brasil 1
Scoresheet: Friaca (47), Schiaffino (66), Ghiggia (79)

1954 FIFA World Cup Switzerland
Date: 4 Juli 1954
Stadium: Wankdorf
City: Berne
Referee: William Ling (Inggris)
Spectacles: 64.000
Match: Jerman Barat 3 Hungaria 2
Pencetak gol: Puskas (6), Czibor (8), Morlock (10), Rahn (18) (84)

1958 FIFA World Cup Sweden
Date: 29 Juni 1950
Stadium: Rasunda
City: Solna
Referee: Maurice Guigue (Prancis)
Spectacles: 51.800
Match: Brasil 5 Swedia 2
Pencetak gol: Liedholm (4), Vava (9) (32), Pele (50) (90), Zagallo (68), Simonsson (80)

1962 FIFA World Cup Chile
Date: 17 Juni 1962
Stadium: Estadio Nacional
City: Santiago
Referee: Nikolaj Latychev (Uni Soviet)
Spectacles: 68.679
Match: Brasil 2 Cekoslovakia 1
Pencetak gol: Masopost (15), Amarildo (17), Zito (69), Vava (78)

1966 FIFA World Cup England
Date: 30 Juni 1966
Stadium: Wembley
City: London
Referee: Gottfried Dienst (Swiss)
Spectacles: 98.000
Match: Inggris 4 Jerman Barat 2
Pencetak gol: Haller (12), Hurst (18) (101) (120), Peters (78), Weber (90)

1970 FIFA World Cup Mexico
Date: 21 Juni 1970
Stadium: Azteca
City: Mexico DF
Referee: Rudi Gloeckner (Jerman Timur)
Spectacles 107.412
Match: Brasil 4 Italia 1
Pencetak gol: Pele (18), Boninsegna (37), Gerson (66), Jairzinho (71), Carlos Alberto (86)

1974 FIFA World Cup Germany FR
Date: 7 Juli 1974
Stadium: Olympiastadion
City: Munich
Referee: Jack Taylor (Inggris)
Spectacles: 75.200
Match: Jerman Barat 2 Belanda 1
Pencetak gol: Neeskens, Breitner, G. Mueller


1978 FIFA World Cup Argentina
Date: 25 Juni 1978
Stadium: Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti
City: Buenos Aires
Referee: Sergio Gonella (Italia)
Spectacles: 71.483
Match: Argentina 3 Belanda 1
Pencetak gol: Kempes (38) (105), Nanninga (86), Bertoni (116)

Piala Dunia 1982 Spanyol
Date: 11 Juli 1982
Stadium: Santiago Bernabeu
City: Madrid
Referee: Arnaldo Cezar Coelho (Brasil)
Spectacles: 90.000
Match: Italia 3 Jerman Barat 1
Pencetak gol: Rossi, Tardelli, Altobelli, Breitner (83)


1986 FIFA World Cup Mexico
Date: 29 Juni 1986
Stadium: Estadio Azteca
City: Mexico City
Referee: Romualdo Arppi Filho (Brasil)
Spectacles: 114.600
Match: Argentina 3 Jerman Barat 2
Pencetak gol: Brown (23), Valdano (46), K. Rummenigge (74), Voeller (80), Burruchaga (83).

1990 FIFA World Cup Italy
Date: 8 Juli 1990
Stadium: Olimpico
City: Roma
Referee: Edgardo Codezal Mendez (Meksiko/Uruguay)
Spectacles: 73.603
Match: Jerman Barat 1 Argentina 0
Pencetak gol: Brehme (85)

Piala Dunia 1994 Amerika Serikat
Date: 17 Juli 1994
Stadium: Rosebowl Pasadena
City: California
Referee: Sandor Puhl (Hungaria)
Spectacles: 94.194
Match: Brasil 0 Italia 0 (Brasil menang adu penalti)

1998 FIFA World Cup France
Date: 12 Juli 1998
Stadion: Stade de France
City: Saint-Denis
Referee: Said Belqola (Maroko)
Spectacles: 75.000
Match: Prancis 3 Brasil 0
Pencetak gol: Zidane, Petit

2002 FIFA World Cup Korea/Japan
Date: 30 Juni 2002
Stadium: World Cup Stadium
City: Yokohama
Referee: Pierluigi Collina (Italia)
Spectacles: 69.029
Match: Brasil 2 Jerman 0
Pencetak gol: Ronaldo

2006 FIFA World Cup Germany
Date: 9 Juli 2006
Stadium: Olympiastadion
City: Berlin
Referee: Horacio Elizondo (Argentina)
Spectacles: 69.000
Match: Italia 1 Prancis 1 (Italia menang adu penalti)
Pencetak gol: Zidane, Materazzi
Read More

Jules Rimet

alam sejarah Piala Dunia, FIFA mengeluarkan dua piala. Piala yang pertama diberi nama resmi Jules Rimet Cup, sedangkan piala yang kedua FIFA World Cup. Piala yang kedua dikeluarkan setelah FIFA memutuskan bahwa Jules Rimet Cup menjadi milik abadi tim Brasil sebagai penghargaan atas keberhasilannya menjadi juara dunia sebanyak tiga kali. Tropi FIFA World Cup diresmikan pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat dan menjadi lambang supremasi sepakbola dunia hingga sekarang. Entah nanti apakah FIFA akan mengganti piala lagi bilamana Jerman, Italia, Argentina, atau Brasil menjadi juara yang ketiga kalinya sejak FIFA World Cup diperebutkan. Kita tunggu saja.

Kembali ke Jules Rimet Cup. Trofi ini sebenarnya memiliki nama lain, yaitu Victory. Akan tetapi akhirnya FIFA memutuskan untuk memberinya nama Jules Rimet pada tahun 1946 sebagai penghormatan kepada penggagas Piala Dunia, Presiden FIFA waktu itu, Jules Rimet.

Piala Jules Rimet terbuat dari bahan perak sterling dan bahan dasar lapis lazuli berlapis emas. Piala ini memiliki tinggi 35 cm dan berat 3,8 kg. Model yang terdapat pada piala ini menggambarkan Dewi Nike bersayap, yang menurut bangsa Yunani dianggap sebagai dewi Kemenangan. Piala ini merupakan buah karya Abel Lafleur.

Piala Jules Rimet menuju Montevideo, Uruguay pada tanggal 21 Juni 1930, diangkut oleh kapal Conte Verne, dari Villefranche-sur-Mer, sebelah selatan kota Nice. Bersama dengan keberangkatan piala ini, ikut pula rombongan tim Prancis, Rumania, dan Belgia dalam kapal itu.

Selama pecahnya Perang Dunia II, piala Jules rimet disimpan oleh Ottorino Barassi, Wakil-Presiden FIFA dari Italia, yang sekaligus Presiden FIGC. Ia secara diam-diam memindahkan piala dari sebuah bank di kota Roma dan menyembunyikannya di dalam sebuah kardus bungkus sepatu agar tidak disita oleh tentara Nazi.

Pada tanggal 20 Maret 1966, "cobaan" datang lagi pada diri piala ini. Empat bulan sebelum kick-off Piala Dunia 1966 Jules Rimet dicuri pada saat dipamerkan di Westminster Central Hall. Beruntung sekali bahwa piala ini tidak jadi hilang karena ditemukan tujuh hari kemudian, terkubur di sebuah taman kota di daerah Upper Norwood, London Selatan. Saat ditemukan, piala tersebut terbungkus oleh kertas koran.

Sayang sekali bahwa Jules Rimet kembali hilang. Kali ini tanpa dapat diketemukan kembali. Piala ini dicuri pada tahun 1983. Belum ada pihak yang mengetahui siapa sebenarnya pencuri piala bersejarah tersebut.

Di atas itu semua, semangat Jules Rimet tetap membara di dalam dada setiap pelaku sepakbola Piala Dunia. Hilangnya Jules Rimet Cup sepertinya membawa pesan bahwa sepakbola adalah sebuah anugerah yang tak dapat dinilai dan diukur secara fisik. Sepakbola adalah sebuah sarana yang dapat mempersatukan umat manusia di seluruh dunia. Inilah semangat yang sekiranya menjadi impian puncak Almarhum Jules Rimet.

Our game is Football. Our game is Fair Play. The Fair Play is Priceless...
Read More

Kronologi Pengundian Putaran Final Piala Dunia


Penyelenggaraan Piala Dunia yang pertama agak berbeda dari penyelenggaraan yang kita saksikan pada masa sekarang. Waktu itu belum ada babak kualifikasi dan tim yang ikut serta adalah mereka yang diundang oleh panitia. Perlu waktu 3 minggu bagi tim-tim dari Eropa untuk sampai ke Montevideo, kota tuan rumah. Pengundian tidak dilaksanakan sebelum semua tim peserta tiba di lokasi pertandingan.

Montevideo, Juli 1930
Rencananya FIFA akan menyelenggarakan Piala Dunia dengan menggunakan sistem knock-out atau sistem gugur. Namun, jumlah negara yang hadir ternyata tidak memenuhi syarat. Hanya terdapat 13 tim, sehingga panitia mengubah model pertandingan menjadi setengah kompetisi menggunakan pembagian grup. Ketigabelas tim peserta dibagi ke dalam empat grup dan masing-masing juara grup berhak lolos ke semifinal.

Roma, Mei 1934
Penyelenggaraan perdana Piala Dunia dinilai berhasil sehingga berlanjut pada turnamen kedua empat tahun berikutnya. Terdapat 32 tim ikut dalam babak kualifikasi untuk putaran final di Italia. FIFA untuk pertama kalinya mengadakan babak kualifikasi tersebut dan menyaring jumlah peserta menjadi 16 tim. Pada putaran final, semua pertandingan berlangsung melalui sistem knock-out, sampai final.

Paris, 5 Maret 1938
Dari 16 tim yang lolos ke putaran final, ada satu tim yang tidak jadi ikut ke Prancis, ialah Austria. Das Wunderteam, demikian julukan Austria waktu itu, mengundurkan diri karena alasan tekanan politik dari pihak Nazi Jerman. Sejumlah pemain Austria, direkrut oleh tim Jerman (seperti halnya Italia terhadap Argentina pada tahun 1934). Satu tempat yang ditinggalkan oleh Austria sebenarnya diberikan kepada Inggris, namun mereka menolaknya.

Undian dilakukan oleh cucu dari Presiden FIFA Jules Rimet di kota Paris. Swedia mendapatkan bye. Sedangkan tim unggulan terdiri atas Prancis, Italia, Cekoslovakia, Hungaria, Kuba, Brasil, dan Jerman.

Rio de Janeiro, 22 Mei 1950
Piala Dunia edisi keempat diwarnai dengan masa pemulihan benua Eropa setelah porak-poranda akibat perang. Piala Dunia ini menandai era baru: format putaran final dibuat sedemikian rupa sehingga para wakil Eropa tidak memakan terlalu banyak waktu untuk menjalani satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Tiga belas peserta lolos dari babak kualifikasi. Ada keganjilan dimana sejumlah tim yang mengundurkan diri sewaktu babak kualifikasi dipanggil lagi di putaran final. Tim peserta dibagi ke dalam tiga grup: dua grup terdiri atas empat tim, satu grup terdiri atas tiga tim dan satu grup terdiri atas dua tim. Para pemenang grup lolos ke penyisihan grup fase kedua.

Piala Dunia 1950 di Brasil ini tidak menyelenggarakan pertandingan final (satu-satunya hingga sekarang). Kebetulan sekali, pertandingan terakhir terjadi antara dua pemuncak grup fase kedua, yakni Brasil dan Uruguay. Uruguay akhirnya menjadi juara dunia setelah mengalahkan Brasil 2-1.

Zurich, 30 Nopember 1953
Piala Dunia Swiss 1954 bertepatan dengan ulang tahun ke-50 FIFA. Format putaran final sebagai berikut: terdapat 16 tim peserta yang dibagi ke dalam empat grup. Juara dan runner-up grup lolos ke perempat final. Babak knock-out berlaku untuk perempat final, semifinal, dan tentu saja, final. Dalam Piala Dunia edisi kali ini, terdapat dua unggulan dalam setiap grup. Kedua unggulan tidak saling bertemu kecuali terjadi hal-hal di luar dugaan; sehingga mengharuskan play-off untuk menentukan poin mereka. Penentuan unggulan ini juga menganut tatacara baru. Tim-tim unggulan ditentukan sebelum mereka lolos ke babak putaran final; tim yang berhasil mengalahkan unggulan dalam kualifikasi akan menggantikan unggulan tersebut. Sebagai contoh, Spanyol dikalahkan oleh Turki, sehingga Turki menggantikan Spanyol sebagai pemegang status unggulan. Perlu dicatat bahwa juara tahun ini, Jerman Barat, tidak termasuk tim unggulan.

Solna, 8 Pebruari 1958
Pola turnamen Piala Dunia 1958 di Swedia dianut oleh turnamen-turnamen berikutnya: empat grup terdiri atas empat tim, setiap tim dalam satu grup saling bertemu, dua tim teratas masing-masing grup lolos ke perempat final. Dalam turnamen ini tidak dikenal istilah unggulan. Akan tetapi sebagai catatan, setiap grup hanya boleh dihuni satu tim dari Eropa Barat, satu tim dari Britania, dan satu tim dari Amerika Latin. Kekuatan lebih merata dibandingan Piala Dunia sebelumnya.

Royal Garden Hotel London, 6 Januari 1966
Inggris menyambut "kembalinya" sepakbola. Undian Piala Dunia 1966 dilakukan secara resmi di kota London, tepatnya di Royal Garden Hotel dan untuk pertama kali acara undian disiarkan langsung oleh televisi. Inilah cara untuk mempromosikan sepakbola Piala Dunia ke khalayak ramai. Format tidak berubah dari edisi sebelumnya, namun dilengkapi dengan penentuan tim-tim unggulan, yang saat itu jatuh pada Inggris, Jerman Barat, Brasil dan Italia. Terdapat 16 negara peserta putaran final yang disaring dari 70 negara yang ikut babak kualifikasi.

Mexico City, 10 Januari 1970
Karena panasnya cuaca dan tipisnya udara kota Mexico City, maka tim-tim dari daratan Eropa berusaha menghindarkan pertandingan yang berlangsung pada siang hari. Piala Dunia Meksiko 1970 tidak mengenal sistem undian. Panitia hanya membagi grup berdasarkan wilayah geografi ke dalam empat grup.

Radio Hessen Frankfurt, 5 Januari 1974.
Piala Dunia 1974 berlangsung di bawah bayangan teror yang terjadi pada Olimpiade Munich 1972. Tuan rumah berusaha untuk menyelenggarakan pengundian seadil-adilnya. Undian yang dihibur oleh koor Schoenberger Sangerknaben dari kota Berlin ini menelurkan hasil yang mengejutkan: Jerman Barat berada satu grup dengan Jerman Timur. Terjadilah perang saudara di kota Hamburg (yang dimenangkan oleh Jerman Timur dengan skor 1-0).

Buenos Aires, 14 Januari 1978
Babak kualifikasi di seluruh dunia diikuti oleh 99 negara dan ini menyebabkan waktu pertandingan lebih lama sebelum masuk ke putaran final. Kualifikasi berlangsung selama 21 bulan.
Read More

Jabulani

Bola resmi yang digunakan untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan bulan Juni-Juli nanti diberi nama "Jabulani". Bola ini seperti pada turnamen yang telah lalu, diproduksi oleh Adidas. Jabulani dalam bahasa Isizulu memiliki arti "bringing joy to everyone". Keluarnya bola Jabulani ini adalah yang kesebelas semenjak Adidas menjadi sponsor resmi bola Piala Dunia. Desain bola ini memang identik dengan nomor "11". Pesan dari pemilihan nomor ini bermacam-macam, mulai dari jumlah pemain satu tim sepakbola (11 orang), jumlah bahasa daerah yang digunakan di Afrika Selatan, hingga tanggal pembukaan-penutupan Piala Dunia 2010 (11 Juni-11 Juli).

Namun, tidak semua pemain merasa nyaman dengan bola ini. Contohnya, Victor Valdes, penjaga gawang utama Barcelona, memberikan kritisi terhadap Jabulani dengan mengatakan, "Saya takut dengan bola tersebut karena lajunya tidak bisa ditebak."

Bola Piala Dunia Sebelumnya:

Perusahaan aparel olahraga Adidas mulai menjadi sponsor resmi pengadaan bola untuk Piala Dunia pada tahun 1970. Setiap Piala Dunia memiliki bola resmi yang berbeda-beda. Hingga edisi 2006, Adidas telah mengeluarkan 10 serial bola yaitu: Challenge, Telstar, Tango Durlast, Tango Espana, Azteca, Etrusco Unico, Questra, Tricolore, Fevernova, +TeamGeist, dan Zakumi)

+TeamGeist
Bola resmi Piala Dunia 2006 di Jerman.

Fevernova
Bola resmi Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang. Fevernova merupakan pengembangan dari serial bola Adidas sebelumnya yakni Tango. Adidas Fevernova memiliki desain warna-warni dan tampilan yang revolusioner, disesuaikan dengan citra budaya bangsa Asia. Bola ini dinilai terlalu ringan dan dikecam karena lajunya yang sering sulit untuk dikendalikan. Fevernova diproduksi di Sialkot, Pakistan dan Maroko.

Tricolore
Bola resmi Piala Dunia 1998 di Prancis. Tricolore menjadi pelopor desain bola Adidas warna-warni. Dipengaruhi oleh serial Tango, seperti halnya Fevernova. Adidas Tricolore menggambarkan warna resmi negara Prancis, tuan rumah turnamen waktu itu dan menjadi bola Adidas yang pertama yang diproduksi di luar Jerman, yakni di Maroko.

Questra
Bola resmi Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Bola ini ternyata banyak disukai sehingga Adidas memproduksi dua versi, yakni Questra Europa (digunakan dalam Euro'96 di Inggris) dan Questra Olympia (digunakan dalam Olimpiade Atlanta 1996). Dalam proses pembuatannya, Adidas berusaha menciptakan bola yang lebih ringan dan lebih responsif. Questra menggunakan lima bahan baku yang berbeda dan membungkusnya dengan polystyrene foam. Dengan desain seperti ini, Adidas Questra menjadi lebih tahan air dan memiliki tingkat akselerasi yang lebih tinggi apabila disepak. Generasi terakhir model ini adalah Questra Apollo yang digunakan sebagai bola resmi La Liga musim 1996-1997.

Etrusco Unico
Bola resmi Piala Dunia 1990 di Italia. Etrusco Unico juga menjadi bola resmi Euro'92 di Swedia. Namanya diambil dari karya seni zaman kuno bangsa Etruscan yang menghuni tanah Italia. Bola ini dihiasi motif tiga kepala singa Etruscan di tengah segitiga yang berjumlah 20 buah.

Azteca
Bola resmi Piala Dunia 1986 di Meksiko. Menjadi bola sintetis murni pertama yang digunakan oleh FIFA dalam kejuaraan resmi. Desain pada kulit bola mengambil model arsitektur dan mural bangsa Aztec.

Tango Espana
Bola resmi Piala Dunia 1982 di Spanyol. Meskipun Adidas telah berusaha meningkatkan daya kedap air bola ini, namun kekurangan masih terlihat. Tango Espana, yang merupakan kelanjutan dari Tango sebelumnya, masih tidak kedap air sehingga mempengaruhi konsistensi gerakan bolanya dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Tango Durlast
Bola resmi Piala Dunia 1978 di Argentina. Melalui serial bola Tango Durlast, Adidas memperkenalkan inovasi desain yang bertahan hingga 20 tahun kemudian. Inovasi itu berupa panel-panel segitiga yang menghiasi 12 lingkaran kulit bola. Pada masanya, Tango Durlast menjadi inovasi termahal sepanjang sejarah. Terbuat dari kulit asli dan dilapisi dengan kulit kedap air.

Telstar
Bola resmi Piala Dunia 1970 di Meksiko dan 1974 di Jerman Barat. Memiliki motif hitam putih dan lebih jelas terlihat oleh pemirsa televisi layar hitam-putih. Nama Telstar merupakan kependekan dari "television star". Telstar terdiri atas 12 bidang pentagon dan 20 bidang heksagon. Desain inilah yang kemudian menjadi desain dasar bola sepak. Sedangkan bola sebelumnya memiliki motif menyerupai bolavoli. Sebagai informasi tambahan, selain menggunakan Telstar, Piala Dunia 1974 juga menggunakan bola Adidas Challenge.
Read More

Forza Milan FIFA World Cups

Squadri Gli Azzurri:
Pietro Arcari 1934*
Omero Tognon 1950, 1954
Carlo Annovazzi 1950
Amleto Frignani 1954
Luigi Radice 1962
Sandro Salvadore 1962
Cesare Maldini 1962
Giovanni Trapattoni 1962
Jose Altafini 1962
Gianni Rivera 1962, 1966, 1970, 1974
Mario David 1962
Giovanni Lodetti 1966
Roberto Rosato 1970
Pierino Prati 1970
Romeo Benetti 1974
Giuseppe Sabadini 1974
Aldo Maldera 1978
Franco Baresi 1982*, 1990, 1994
Fulvio Collovati 1982*
Paolo Rossi 1986
Roberto Donadoni 1990, 1994
Paolo Maldini 1990, 1994, 1998, 2002
Alessandro Costacurta 1994, 1998
Mauro Tassotti 1994
Demetrio Albertini 1994, 1998
Daniele Massaro 1994
Gennaro Gattuso 2002
Filippo Inzaghi 2002, 2006*
Christian Abbiati 2002
Alessandro Nesta 2006*
Andrea Pirlo 2006*

Stranieri:
Nils Liedholm (Swedia) 1958
Karl-heinz Schnellinger (Jerman Barat) 1966, 1970
Ray Wilkins (Inggris) 1986
Mark Hateley (Inggris) 1986
Frank Rijkaard (Belanda) 1990
Marco van Basten (Belanda) 1990
Ruud Gullit (Belanda) 1990
Florin Raducioiu (Rumania) 1994
Andre Cruz (Brasil) 1998
Leonardo (Brasil) 1998
Marcel Desailly (Prancis) 1998*
Patrick Kluivert (Belanda) 1998
Christian Ziege (Jerman) 1998
Dejan Savicevic (Yugoslavia) 1998
Zvonimir Boban (Kroasia) 1998
Martin Laursen (Denmark) 2002
Roque Junior (Brasil) 2002*
Dida (Brasil) 2002*, 2006
Cesar Manuel Rui Costa (Portugal) 2002
Jose Chamot (Argentina) 2002
Marek Jankulovski (Republik Ceko) 2006
Zeljko Kalac (Australia) 2006
Cafu (Brasil) 2006
Kaka (Brasil) 2006
Dario Zimic (Kroasia) 2006
Johann Vogel (Swiss) 2006
Andriy Shevchenko (Ukraina) 2006

*) World Champions.
Read More

Piala Jules Rimet


Dalam sejarah Piala Dunia, FIFA mengeluarkan dua piala. Piala yang pertama diberi nama resmi Jules Rimet Cup, sedangkan piala yang kedua FIFA World Cup. Piala yang kedua dikeluarkan setelah FIFA memutuskan bahwa Jules Rimet Cup menjadi milik abadi tim Brasil sebagai penghargaan atas keberhasilannya menjadi juara dunia sebanyak tiga kali. Tropi FIFA World Cup diresmikan pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat dan menjadi lambang supremasi sepakbola dunia hingga sekarang. Entah nanti apakah FIFA akan mengganti piala lagi bilamana Jerman, Italia, Argentina, atau Brasil menjadi juara yang ketiga kalinya sejak FIFA World Cup diperebutkan. Kita tunggu saja.

Kembali ke Jules Rimet Cup. Trofi ini sebenarnya memiliki nama lain, yaitu Victory. Akan tetapi akhirnya FIFA memutuskan untuk memberinya nama Jules Rimet pada tahun 1946 sebagai penghormatan kepada penggagas Piala Dunia, Presiden FIFA waktu itu, Jules Rimet.

Piala Jules Rimet terbuat dari bahan perak sterling dan bahan dasar lapis lazuli berlapis emas. Piala ini memiliki tinggi 35 cm dan berat 3,8 kg. Model yang terdapat pada piala ini menggambarkan Dewi Nike bersayap, yang menurut bangsa Yunani dianggap sebagai dewi Kemenangan. Piala ini merupakan buah karya Abel Lafleur.

Piala Jules Rimet menuju Montevideo, Uruguay pada tanggal 21 Juni 1930, diangkut oleh kapal Conte Verne, dari Villefranche-sur-Mer, sebelah selatan kota Nice. Bersama dengan keberangkatan piala ini, ikut pula rombongan tim Prancis, Rumania, dan Belgia dalam kapal itu.

Selama pecahnya Perang Dunia II, piala Jules rimet disimpan oleh Ottorino Barassi, Wakil-Presiden FIFA dari Italia, yang sekaligus Presiden FIGC. Ia secara diam-diam memindahkan piala dari sebuah bank di kota Roma dan menyembunyikannya di dalam sebuah kardus bungkus sepatu agar tidak disita oleh tentara Nazi.

Pada tanggal 20 Maret 1966, "cobaan" datang lagi pada diri piala ini. Empat bulan sebelum kick-off Piala Dunia 1966 Jules Rimet dicuri pada saat dipamerkan di Westminster Central Hall. Beruntung sekali bahwa piala ini tidak jadi hilang karena ditemukan tujuh hari kemudian, terkubur di sebuah taman kota di daerah Upper Norwood, London Selatan. Saat ditemukan, piala tersebut terbungkus oleh kertas koran.

Sayang sekali bahwa Jules Rimet kembali hilang. Kali ini tanpa dapat diketemukan kembali. Piala ini dicuri pada tahun 1983. Belum ada pihak yang mengetahui siapa sebenarnya pencuri piala bersejarah tersebut.

Di atas itu semua, semangat Jules Rimet tetap membara di dalam dada setiap pelaku sepakbola Piala Dunia. Hilangnya Jules Rimet Cup sepertinya membawa pesan bahwa sepakbola adalah sebuah anugerah yang tak dapat dinilai dan diukur secara fisik. Sepakbola adalah sebuah sarana yang dapat mempersatukan umat manusia di seluruh dunia. Inilah semangat yang sekiranya menjadi impian puncak Almarhum Jules Rimet.

Our game is Football. Our game is Fair Play !
Read More

1930 FIFA World Cup Match Officials

Below are match officials who were given honors by the FIFA Committee to lead the games during the first occasion of the FIFA World Cup. All matches were held at Estadio Centenario in Montevideo, the capital city of Uruguay.

Domingo Lombardi (Uruguay)
Almeida Rego (Brazil)
Dr. Gilberto Leonel de Almeida Rego
Born: 21 February 1881
Died: 21 October 1961
Henry Christophe (Belgium)
Anibal Tejada (Uruguay)
Ulises Saucedo (Bolivia)
Born: 3 March 1896
Died: 21 November 1963
Jean Langenus (Belgium)
Francisco Mateucci (Uruguay)
Thomas Balvay (Prancis)
Alberto Warnken (Chile)
Jose Macias (Argentina)
Ricardo Vallarino (Uruguay)
Read More

I Rossoneri di Piala Dunia

Asocionale Calcio Milan, S.p.A., sebagai salah satu klub teras Serie A dan Eropa tidak ketinggalan dalam menyumbang pemain ke Piala Dunia. Selain untuk Italia, Rossoneri memberikan kontribusi kepada tim-tim lain: Swedia, Jerman, Inggris, Belanda, Rumania, Brasil, Yugoslavia, Prancis, Kroasia, Denmark, Portugal, Argentina, Republik Ceko, Swiss, dan Ukraina.

Dari 18 edisi Piala Dunia, Milan ikut serta dalam 16 turnamen. Dua edisi yang tidak diikuti ialah tahun 1930 di Uruguay dan 1938 di Prancis. Partisipasi Milan dalam Piala Dunia diawali oleh Pietro Arcari yang memperkuat Gli Azzurri Italia pada tahun 1934.

Armada Rossoneri dapat dibagi ke dalam dua bagian, yakni skuad Italia dan Stranieri (pemain asing). Hingga Piala Dunia 2006 di Jerman, terdapat 31 pemain yang memperkuat Italia, dan 27 pemain yang memperkuat negara lain. Stranieri terbanyak yang mewakili AC Milan berasal dari Brasil. Tim Samba menyumbang 6 pemain, di luar Jose Altafini (Catatan: Pada Piala Dunia 1962 Altafini bermain di bawah bendera Italia. Pada tahun 1958 ia membela Brasil).

Gianni Rivera dan Paolo Maldini berbagi tempat pemegang rekor pemain Milan yang paling sering masuk skuad tim nasional Italia, yakni sebanyak 4 kali. Rivera melakukannya dalam periode 1962-1974, sedangkan Maldini pada periode 1990-2002. Sementara itu rekor untuk stranieri dipegang oleh Karl-heinz Schnellinger (2 kali), yaitu pada periode 1966-1970.

Daftar lengkap pemain AC Milan di Piala Dunia dapat dilihat dalam posting Forza Milan FIFA World Cups

Specially thank Fossa Dei Leoni for the amazing photo shot :)
Read More

Sweden 1958

13 : Just Fontaine. 6 : Pele, Helmut Rahn. 5 : Vava, Peter McParland. 4 : Zdenek Zikan, Lajos Tichy, Agne Simonsson, Kurt Hamrin, Roger Piantoni. 3 : Omar Oreste Corbatta, Toza Veselinovic, Hans Schaefer. 2 : Jose Altafini, Derek Kevan, Jorge Romero, Jose Parodi, Juan Aguero, Vaclav Hovorka, Florencio Amarilla, Aleksandar Petakovic, Ivor Allchurch, Milan Divorak, Anatoli Ilyin, Uwe Seeler, Nils Liedholm, Maryan Wisneski, Raymond Kopa. 1 : Sammy BAird, Yvos Douis, Hans Cieslarczyk, Jaime Belmonte, Jimmy Murray, Jozsef Bencsis, Ludovico Avio, Radivoje Ognjanovic, Tom Finney, Alfred Koerner, Bobby Collins, Cayetano Re, Jackie Mudie, John Charles, John Haynes, Joszef Bozsik, Karl Koller, Karoly Sandor, Norberto Menendez, Jiri Felureisl, Aleksandr Ivanov, Zdravko Rajkov, Terry Medwin, Didi, Gunnar Gren, Lennart Skoglund, Nikita Simonian, Nilton Santos, Valentin Ivanov, Mario Zagallo, Wilbur Cush, Jean Vincent.
Read More

Germany 2006

5 : Miroslav Klose. 3 : Ronaldo, Hernan Crespo, Zinedine Zidane, David Villa, Fernando Torres, Maxi Rodriguez, Lukas Podolski, Thierry Henry. 2 : Bastian Schweinsteiger, Patrick Vieira, Agustin Delgado, Andriy Shevchenko, Aruna Dindane, Bartosz Bosacki, Carlos Tenorio, Tomas Rosicky, Adriano, Omar Bravo, Paulo Wanchope, Tim Cahill, Marco Materazzi, Alexander Frei, Steven Gerrard, Luca Toni, Maniche. 1 : Francesco Totti, Andrea Pirlo, John Aloisi, Javier Saviola, Maksym Kalinichenko, David Beckham, Lionel Messi, Marcus Allback, Ivan Kaviedes, Zinha, Zied Jaziri, Asamoah Gyan, Ronald Gomez, Arjen Robben, Carlos Tevez, Alberto Gilardino, Robin van Persie, Stephen Appiah, Tranquillo Barnetta, Joe Cole, Simao Sabrosa, Kaka, Pauleta, Frank Ribery, Gianluca Zambrotta, Fred, Filippo Inzaghi, Abou Tarika, Nuno Gomes, Jan Koller, Nelson Cuevas, Bonaventura Kalou, Ahn Jung-hwan, Sami al-Jaber, Gilberto, Juanito, Sasa Ilic, Sohrab Bakhtiarizadeh, Nikola Zigic, Keiji Tamada, Bakary Kone, Oliver Neuville, Clint Dempsey, Alessandro Del Piero, Haminu Draman, Yasser al-Kahtani, Yahya Golmohammadi, Serhiy Rebrov, Raul, Didier Drogba, Juninho Pernambucano, Vincenzo Iaquinta, Ruud van Nistelrooiy, Harry Kewel, Niko Kovac, Philippe Senderos, Xabi Alonso, Lee Chun-soo, Jose Fonseca, Darijo Srna, Jaouhar Mnari, Mohamed Kader, Park Ji-sung, Radhi Jaidi, Shunsuke Nakamura, Sulley Muntari, Craig Moore, Peter Crouch, Deco, Fredrik Ljungberg, Henrik Larsson, Esteban Cambiasso, Ze Roberto, Cristiano Ronaldo, Andriy Rusol, Rafael Marquez, Roberto Ayala, Torsten Frings, Fabio Grosso, Philipp Lahm.
Read More

Korea Japan 2002

8 : Ronaldo. 5 : Miroslav Klose, Rivaldo. 4 : Jon Dahl Tomasson, Christian Vieri. 3 : Michael Ballack, Ilhan Mansiz, Pauleta, Fernando Morientes, Raul, Marc Wilmots, Henrik Larsson, Robbie Keane, Papa Bouba Diop. 2 : Henri Camara, Ronaldinho, Hasan Sas, Ronald Gomez, Umit Davala, Nelson Cuevas, Junichi Inamoto, Jared Borgetti, Michael Owen, Brian McBride, Fernando Hierro, Landon Donovan, Ahn Jung-hwan. 1 : David Beckham, Bernd Schneider, Junior, Lee Eul-yong, Siyabonga Nomvethe, Milenko Acimovic, Clint Mathis, Johan Walem, Quinton Fortune, Augustin Delgado, Mauricio Wright, Samuel Eto'o, Anders Svensson, Cuauhtemoc Blanco, Francisco Arce, Khalilou Fadiga, Matt Holland, John O'Brien, Edmilson, Hakan Sukur, Winston Parks, Diego Forlan, Richard Morales, Hiroaki Morishima, Hernan Crespo, Oliver Bierhoff, Alessandro Del Piero, Wesley Sonck, Rui Costa, Ivica Olic, Dmitry Sychev, Vladimir Beschastnykh, Peter van der Heyden, Beto, Carsten Jancker, Gabriel Batistuta, Gaizka Mendieta, Jorge Campos, Milan Rapajc, Patrick Mboma, Pawel Kryszalowicz, Benni McCarthy, Hwang Sun-hong, Dario Rodriguez, Raouf Bouazaiene, Lucas Radebe, Paulo Wanchope, Alvaro Recoba, Valeri Karpin, Emmanuel Olisadebe, Edison Mendez, Igor Titov, Julius Aghahowa, Teboho Mokoena, Takayuki Suzuki, Salif Diao, Roque Santa Cruz, Marco Bode, Niclas Alexandersson, Gerardo Torrado, Hidetoshi Nakata, Dennis Rommedahl, Oliver Neuville, Emile Heskey, Juan Carlos Valeron, Damien Duff, Gary Breen, Rio Ferdinand, Sol Campbell, Emre Belozoglu, Bulent Korkmaz, Roberto Carlos, Yoo Sang-chul, Seol Ki-hyeon, Thomas Linke, Park Ji-sung, Song Chong-gug.
Read More

France 1998

6 : Davor Suker. 5 : Gabriel Batistuta, Christian Vieri. 4 : Luis Hernandez, Marcelo Salas, Ronaldo. 3 : Thierry Henry, Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff, Bebeto, Cesar Sampaio, Dennis Bergkamp, Rivaldo. 2 : Ricardo Pelaez Linares, Fernando Morientes, Kiko Narvaez, Shaun Bartlett, Roberto Baggio, Michael Owen ....
Read More

USA 1994

6 : Oleg Salenko, Hristo Stoichkov.
5 : Jurgen Klinsmann, Kennet Andersson, Roberto Baggio, Romario.
4 : Gabriel Batistuta, Florin Raducioiu, Martin Dahlin.
3 : Jose Luis Caminero, Dennis Bergkamp, Gheorghe Hagi, Bebeto, Tomas Brolin.
2 : Adolfo Valencia, Claudio Caniggia, Rudi Voller, Adrian Knup, Fuad Amin, Hong Myung-bo, Philippe Albert, Daniel Amokachi, Luis Garcia, Emmanuel Amunike, Juan Antonio Goikotxea, Ilie Dumitrescu, Wim Jonk, Dino Baggio, Iordan Letchkov, John Lozano, Aitor Beguiristain, Fahad al-Ghesheyan, Roger Milla, John Aldridge, Hassan Nader, Kjetil Rekdal, Gaston Taument, Seo Jung-won, Josep Guardiola, Karl-heinz Riedle, Herman Gaviria, Sami al-Jaber, Mohammed Chaouch, Diego Maradona, Dimitri Radchenko, David Embe, Henrik Larsson, Marc De Grijse, Daniel Borimirov, Alain Sutter, Samson Siasia, Bryan Roy, Eric Wynalda, Aron Winter, Erwin Sanchez, Francois Omam-Biyik, Georges Grun, Hwang Sung-hong, Julio Salinas, Branco, Alberto Garcia Aspe, Rai, Said al-Owairan, Marcelino Bernal, Fernando Hierro, Earnie Stewart, Abel Balbo, Hakan Mild, Ray Houghton, Georges Bregy, Luis Enrique, Stephane Chapuisat, Rashidi Yekini, Finidi George, Lothar Matthaus, Daniele Massaro, Dan Petrescu, Nasko Sirakov, Roger Ljung, Marcio Santos.
Read More

Italia 1990

6 : Salvatore Schillaci.
5 : Tomas Skuhravy.
4 : Roger Milla, Michel, Lothar Matthaus, Gary Lineker.
3 : David Platt, Rudi Voller, Andreas Brehmen, Jurgen Klinsmann.
2 : Darko Pancev, Bernardo Redin, Gavril Balint, Marius Lacatus, Muller, Careca, Roberto Baggio, Michal Bilek, Davor Jozic, Dragan Stojkovic, Claudio Caniggia.
1 : Milan Luhovy, Pablo Bengoechea, Eugene Ekeke, Hernan Medford, Aldo Serena, Glenn Stromberg, Daniel Fonseca, Johnny Ekstrom, Patrick Vervoort, Wim Kieft, Robert Prosinecki, Hwang Bo-kwan, Gerhard Rodax, Andrei Zygmantovich, Khalid Ismail, Tomas Brolin, Aleksandr Zavarov, Ali Thani Jumaa, Andreas ogris, Bruce Murray, Paul Caligiuri, Igor Dobrovolskyi, Oleg Protasov, Niall Quinn, Stuart McCall, Magdy Abedelghani, Mo Johnston, Uwe Bein, Julio Salinas, Alberto Gorriz, Leo Clijsters, Emmanuel Kunde, Marc De Grijse, Jan Ceulemans, Juan Cayasso, Lubos Kubik, Roger Flores, Ronald Gonzalez, Ruud Gullit, Ronald Koeman, Freddy Rincon, Pierre Littbarski, Carlos Valderrama, Michel De Wolf, Enzo Scifo, Safet Susic, Pedro Troglio, Kevin Sheedy, Ivan Hasek, Francois Omam-Biyik, Giuseppe Giannini, Mark Wright, Jorge Burruchaga.
Read More

Mexico 1986

[6] : Gary Lineker [5] : Diego Maradona, Careca, Emilio Butragueno. [4] : Jorge Valdano, Preben Elkjaer-Larsen, Alessandro Altobelli, Igor Belanov. [3] : Jan Ceulemans, Nico Claesen, Jesper Olsen, Rudi Voller. [2] : Jorge Burruchaga, Enzo Scifo, Josimar, Socrates, Jean-Pierre Papin, Michel Platini, Yannick Stopyra, Klaus Allofs, Fernando Quirarte, Abderrazak Khairi, Roberto Cabanas, Julio Cesar Romero, Ramon Maria Caldere. [1] : Djamel Zidane, Jose Luis Brown, Pedro Pasculli, Oscar Ruggeri, Stephane Demol, Erwin Vandenburgh, Franky Vercauteren, Daniel Veyt, Edinho, Plamen Getov, Nasko Sirakov, John Eriksen, Michael Laudrup, Soren Lerby, Peter Beardsley, Manuel Amoros, Luis Fernandez, Jean-Marc Ferreri, Bernard Genghini, Dominique Rocheteau, Jean Tigana, Andreas Brehme, Lothar Matthaus, Ahmed Radi, Luis Flores, Karl-heinz Rummenigge, Wlodimierz Smolarek, Hugo Sanchez.
Read More

Espana 1982

6 : Paolo Rossi.
5 : Karl-heinz Rummenigge.
4 : Zico, Zbigniew Boniek.
3 : Laszlo Kiss, Falcao, Gerry Armstrong, Alain Giresse.
2 : Antonin Panenka, Laszlo Fazekas, Gabor Poloskei, John Wark, Salah Assad, Tibor Nyilasi, Bryan Robson, Dominique Rochetau, Klaus Fischer, Daniel Bertoni, Bernard Genghini, Serginho, Trevor Francis, Diego Maradona, Didier Six, Billy Hamilton, Eder, Socrates, Walter Schachner, Daniel Passarella, Michel Platini, Pierre Littbarski, Marco Tardelli.
1 : Lazar Szentes, Eduardo Laing, Joe Jordan, Juan Letelier, Wlodzimierz Ciolek, Alessandro Altobelli, Kenny Dalglish, Uwe Reinders, Alain Couriol, Tedj Bensaoula, Guillermo La Rosa, Andrzej Szarmach, Lakhdar Belloumi, Jozsef Toth, Jozsef Varga, David Narey, Miguel Neira, Ramon Diaz, Rene Girard, Steve Archibald, Khoren Oganesian, Enrique Saura, Luis Ramirez, Gustavo Moscoso, Rabah Madjer, Abdulaziz al-Balushi, Faisal al-Dakhil, Graeme Souness, Gregoire Mbida, Hector Zelaya, Ivan Gudelj, John Robertson, Ruben Diaz, Steve Sumner, Steve Wooddin, Vladimir Petrovic, Lopez Ufarte, Juanito, Horst Hrubesch, Andrei Bal, Hans Krankl, Jesus Zamora, Alex Czerniatynski, Yuri Gavrilov, Janusz Kupcewicz, Reinhold Hintermaier, Ramaz Shengelia, Oscar, Aleksandr Chivadze, Bruno Pezzey, Erwin Vandenbergh, Junior, Ludo Coeck, Oleg Blokhin, Osvaldo Ardilles, Paul Mariner, Sergei Baltacha, Gerard Soler, Wlodimierz Smolarek, Francesco Graziani, Maxime Bossis, Antonio Cabrini, Andrzej Buncol, Bruno Conti, Grzegorz Lato, Stefan Majewski, Paul Breitner, Marius Tresor.
Read More

Argentina 1978

6 : Mario Kempes.
5 : Teofilo Cubillas, Rob Rensenbrink.
4 : Leopoldo Luque, Hans Krankl.
3 : Karl-heinz Rummenigge, Roberto Dinamite, Johnny Rep, Dirceu, Paolo Rossi.
2 : Archie Gemmill, Nelinho, Dieter Muller, Heinz Flohe, Ernie Brandts, Zbigniew Boniek, Daniel Bertoni, Grzegorz Lato, Arie Haan, Roberto Bettega.
1 : Andras Toth, Dani, Dick Nanninga, Marc Berdoll, Hassan Rowhsan, Bernard Lacombe, Dominique Rocheteau, Iraj Danayfar, Christian Lopez, Karoly Csapo, Walter Schachner, Michel Platini, Reinaldo, Zico, Thomas Sjoberg, Kenny Dalglish, Ali Kaabi, Bernd Holzenbein, Joe Jordan, Juan Manuel Asensi, Nejib Ghommidh, Ruediger Abramczik, Sandor Zombori, Victor Rangel, Arturo Vasquez, Renato Zaccarelli, Hansi Muller, Rene Houseman, Jose Velasquez, Adrzej Szarmach, Romeo Benetti, Cesar Cueto, Erich Obermayer, Kazimierz Deyna, Franco Causio, Rene van de Kerkhof, Willy van de Kerkhof, Alberto Tarantini, Daniel Passarella.
Read More

West Germany 1974

7 : Grzegorz Lato. 5 : Adrzej Szarmach, Johan Neeskens. 4 : Ralf Edstrom, Gerd Muller, Johnny Rep. 3 : Dusan Bajevic, Rene Houseman, Kazimierz Deyna, Johan Cruijff, Rivelino, Paul Breitner. 2 : Stanislav Karasi, Hector Yazalde, Emmanuel Sanon, Joe Jordan, Joachim Streich, Ivica Surjak, Roland Sandberg, Wolfgang Overath, Jairzinho. 1 : Theo De Jong, Gianni Rivera, Pietro Anastasi, Bernd Cullmann, Miguel Brindisi, Fabio Capello, Hristo Bonev, Peter Lorimer, Ricardo Pavoni, Romeo Benetti, Sergio Ahumada, Ilija Petkovic, Rainer Bonhof, Branko Oblak, Conny Torstensson, Dragan Dzajic, Carlos Babington, Vladislav Bogicevic, Rob Rensenbrink, Martin Hoffmann, Jurgen Grabowski, Valdomiro, Josip Katalinski, Jurgen Sparwasser, Ramon Heredia, Ruben Ayala, Uli Hoenness, Jerzy Gorgon, Ruud Kroll.
Read More

Meksiko 1970

10 : Gerd Muller.
7 : Jairzinho.
5 : Teofilo Cubillas
4 : Anatoly Bishovets, Pele.
3 : Rivelino, Luigi Riva, Uwe Seeler.
2 : Gianni Rivera, Raoul Lambert, Florea Dumitrache, Ladislav Petras, Wilfried van Moer, Javier Valdivia, Alberto Gallardo, Tostao, Roberto Boninsegna.
1 : Juan Ignacio Basaguren, Allan Clarke, Ove Grahn, Tom Turesson, Asparukh Nikodimov, Dinko Dermendzhiev, Dobromir Zhechev, Houmane Jarir, Todor Kolev, Hristo Bonev, Alexandru Neagu, Mahjoub Ghazouani, Jose Gonzalez, Kakhi Asatiani, Emerich Dembrovschi, Mordechai Spiegler, Geoff Hurst, Gerson, Vitali Khmelnitski, Roberto Challe, Martin Peters, Hector Chumpitaz, Javier Fragoso, Stan Libuda, Gustavo Pena, Victor Esparrago, Alan Mullery, Angelo Domenghini, Luis Cubilla, Franz Beckenbauer, Karl-heinz Schnellinger, Clodoaldo, Ildo Maniero, Carlos Alberto Torres, Juan Mujica, Tarcisio Burgnich, Wolfgang Overath.
Read More

Inggris 1966

9 : Eusebio.
6 : Helmut Haller.
4 : Valeriy Porkuyan, Geoff Hurst, Ferenc Bene, Franz Beckenbauer.
3 : Luis Artime, Eduard Malofeyev, Bobby Charlton, Roger Hunt, Jose Augusto, Jose Torres.
2 : Ruben Marcos, Igor Chislenko, Pak Seung-zin, Kalman Mezoy, Uwe Seeler.
1 : Jose Maria Fuste, Rildo, Tostao, Hector De Bourgoing, Amancio, Garrincha, Julio Cortes, Li Dong-woon, Paolo Barison, Pedro Rocha, Pele, Pirri, Rene Quentin, Yang Seung-kook, Georgi Asparukhov, Gerard Hausser, Manuel Sanchis, Sandro Mazzola, Erminio Onega, Janos Farkas, Park Doo-ik, Lothar Emmerich, Anatoli Banishevski, Martin Peters, Rene Simoes, Sigfried Held, Wolfgang Weber.
Read More

Cile 1962

4 : Florian Albert, Valentin Ivanov, Garrincha, Vava, Drazen Jerkovic, Leonel Sanchez.
3 : Lajos Tichy, Amarildo, Adolf Scherer, Milan Galic.
2 : Igor Chislenko, Jose Sasia, Uwe Seeler, Ron Flowers, Viktor Ponedelnik, Jorge Toro, Eladio Rojas, Jaime Ramirez.
1 : Adelardo, Hector Facundo, Pele, Vaclav Masek, Francisco Zuluaga, Angel Cabrera, Olegshy Mamykin, Antonio Rada, Bruno Mora, Gerry Hitchens, Joaquin Peiro, Jose Sanfilippo, Josef Stirbanyi, Luis Cubilla, Vojislav Melic, Alfredo Bruells, Alfredo Del Aguila, Bobby Charlton, Brno Solymosi, German Aceros, Heinz Schneiter, Isidoro Diaz, Jimmy Greaves, Josef Kadraba, Marcos Coll, Marino Klinger, Rolf Wuethrich, Hector Hernandez, Horst Szymaniak, Josef Masopust, Petar Radakovic, Mario Zagallo, Zito, Josip Skoblar.
Read More

Swiss 1954



11 : Sandor Kocsis.
6 : Sepp Huegi, Erich Probst, Maximilian Morlock.
4 : Ferenc Puskas, Helmut Rahn, Robert Ballaman, Nandor Hidegkuti, Hans Schaefer, Ottmar Walter, Carlos Borges.
3 : Mamat Suat, Sargin Burhan, Juan Hohberg, Leopold Anoul, Nat Lofthouse, Oscar Miguez, Theodor Wagner, Ernst Stojaspal, Zoltan Czibor, Fritz Walter.
2 : Peter Palotas, Pinga, Kucukandonyadis Lefter, Didi, Ivor Broadis, Julinho, Julio Abbadie, Ernst Ocwirk, Robert Koerner, Juan Schiaffino, Mihaly Lantos.
1 : Alfred Pfaff, Gianpiero Boniperti, Jimmy Mullen, Richard Herrmann, Amleto Frignani, Berni Klodt, Carlo Galli, Dennis Wilshaw, Jean Vincent, Jose Lamadrid, Jozsef Toth, Tomas Balcazar, Raymond Kopa, Rik Coppens, Benito Lorenzi, Erol Keskin, Erton Mustafa, Fulvio Nesti, Obdulio Varela, Egisto Pandolfini, Baltazar, Branko Zebec, Milos Milutinovic, Tom Finney, Djalma Santos, Jackie Fatton, Javier Ambrois.
Read More

Brasil 1950


9 : Ademir.
5 : Oscar Miguez, Estanislao Basora.
4 : Alcides Ghiggia, Chico, Zarra.
3 : Kosta Tomasevic, Juan Schiaffino, Karl-Erik Palmer, Stig Sundqvist.
2 : Baltazar, Riccardo Carapellese, Atilio Cremaschi, Jackie Fatton, Zeljko Cajkovsi, John Souza, Hans Jeppsson, Zizinho, Jair, Sune Andersson.
1 : Alfredo II, Egisto Pandolfini, Tihomir Ognjanov, Andres Prieto, Atilio Lopez, Bror Mellberg, Cesar Lopez Fretes, Ermes Muccinelli, Fernando Riera, Frank Wallace, Wilf Mannion, Ernesto Vidal, Horacio Casarin, Jean Tamini, Joe Gaetjens, Jorge Robledo, Stan Mortensen, Stjepan Bobek, Hector Ortiz, Friaca, Julio Perez, Maneca, Obdulio Varela, Silvester Igoa.
Read More

Prancis 1938


7 : Leonidas.
6 : Gyula Zsengeller.
5 : Gyorgy Sarosi, Silvio Piola.
4 : Ernest Wilimowski, Gino Colaussi.
3 : Gustav Wetterstrom, Tore Keller, Arner Nyberg, Andre Abegglen, Hector Socorro, Peracio, Romeu.
2 : Jean Nicolas, Stefan Dobay, Oldrich Nejedly.
1 : Hendrik Isemborghs, Arne Brustad, Josef Gauchel, Josef Zeman, Pietro Ferraris, Silviu Bindea, Fryedryk Szerfke, Emile Veinante, Geza Toldi, Oscar Heisserer, Pal Titkos, Roberto, Vilmos Kohut, Iuliu Baratky, Whilhelm Hahnemann, Harry Andersson, Sven Jonasson, Eugen Walachek, Fredy Bickel, Tomas Fernandez, Josef Kostalek, Vlastimil Kopecky, Giuseppe Meazza.
Read More

Italia 1934


5 : Oldrich Nejedly.
4 : Edmund Conen, Angelo Schiavio.
3 : Leopold Kielholz, Raimundo Orsi.
2 : Abdulrahman Fawzi, Bernard Voorhoof, Geza Toldi, Johann Horvath, Karl Hohmann, Sven Jonasson, Iraragorri, Frantisek Svoboda, Ernest Lehner, Antonin Puc, Giovanni Ferrari, Giuseppe Meazza.
1 : Alberto Galateo, Aldo Donelli, Ernesto Belis, Jeno Vincze, Kick Smit, Leen Vente, Leonidas, Pal Teleki, Rudolf Noack, Stefan Dobay, Willy Jaeggi, Gyorgy Sarosi, Jean Nicolas, Georges Verriest, Andre Abegglen, Gosta Dunker, Knut Kroon, Isidro Langara, Luis Regueiro, Toni Schall, Stanislaus Kobierski, Matthias Sindelar, Otto Siffling, Josef Bican, Karl Sesta, Karl Zischek, Enrique Guaita.
Read More

Uruguay 1930


8 : Guillermo Stabile.
5 : Pedro Cea.
4 : Bert Patenaude, Guillermo Subiabre.
3 : Juan Anselmo, Preguinho, Ivica Bek, Carlos Peucelle.
2 : Adolfo Zumelzu, Moderato, Andre Maschinot, Hector Castro, Bart McGhee, Pablo Dorado, Manuel Rosas, Luis Monti, Victoriano Iriarte.
1 : Alejandro Scopelli, Constantin Stanciu, Adalbert Desu, Branislav Sekulic, Luis Souza, Luis Vargas Pena, Roberto Gayon, Stefan Barbu, Aleksandar Tirnanic, Blagoje Marjanovic, Carlos Vidal, Djordje Vujadinovic, Hector Scarone, Jim Brown, Juan Carreno, Lucien Laurent, Marcell Langiller, Francisco Varallo, Mario Evaristo.
Read More

Goals for Africa !!

Sejak tradisi gol dibuka oleh Abdulrahman Fawzi, yang memperkuat Aljazair dalam Piala Dunia 1934 di Italia, hingga turnamen terakhir, Germany 2006, Afrika telah membawa pulang 80 gol. Bermain di atmosfer yang telah tidak asing, kesempatan sangat terbuka lebar bagi para bomber Afrika untuk memperbanyak perolehan gol mereka.

Dari total 64 pemain, Nigeria, meskipun baru ikut serta dalam Piala Dunia 1994, menyumbang pemain terbanyak (12 pemain), Namun untuk urusan kesuburan individunya, Kamerun boleh berbangga dengan hasil karya Roger Milla. Ikut dalam dua Piala Dunia (1990 dan 1994), Milla menjadi pencetak gol terbanyak sementara pemain Afrika dengan 5 gol, disusul oleh Papa Bouba Diop (Senegal) dengan 3 gol.

Untuk lebih lengkapnya simak daftar pencetak gol Afrika di Piala Dunia berikut ini:

5 gol:
Roger Milla (Kamerun)

3 gol:
Papa Bouba-Diop (Senegal)

2 gol:
Bennedict McCarthy (Afrika Selatan)
Abdulrahman Fawzi (Aljazair)
Salah Assad (Aljazair)
Francois Omam-Biyik (Kamerun)
Abdelrazak Khairi (Maroko)
Salaheddin Bassir (Maroko)
Abdeljalil Hadda (Maroko)
Daniel Amokachi (Nigeria)
Emmanuel Amunike (Nigeria)
Aruna Dindane (Pantai Gading)
Henri Camara (Senegal)

1 gol:
Shaun Bartlett (Afrika Selatan)
Teboho Mokoena (Afrika Selatan)
Quinton Fortune (Afrika Selatan)
Siyabonga Nomvethe (Afrika Selatan)
Lucas Radebe (Afrika Selatan)
Rabah Madjer (Aljazair)
Lakhdar Belloumi (Aljazair)
Tedj Bensaoula (Aljazair)
Djamel Zidane (Aljazair)
Abou Tarika (Angola)
Asamoah Gyan (Ghana)
Stephen Appiah (Ghana)
Haminu Draman (Ghana)
Sulley Muntari (Ghana)
Gregoire Mbida (Kamerun)
Emmanuel Kunde (Kamerun)
Eugene Ekeke (Kamerun)
David Embe (Kamerun)
Patrick Mboma (Kamerun)
Samuel Eto'o (Kamerun)
Mahjoub Ghazouani (Maroko)
Houmane Jarir (Maroko)
Abdelkarim Krimau (Maroko)
Mohammed Chaouch (Maroko)
Hassan Nader (Maroko)
Mustafa El Hadji (Maroko)
Magdy Abedelghani (Mesir)
Rashidi Yekini (Nigeria)
Samson Siasia (Nigeria)
Finidi George (Nigeria)
Mutiu Adepoju (Nigeria)
Garba Lawal (Nigeria)
Sunday Oliseh (Nigeria)
Victor Ikpeba (Nigeria)
Wilson Oruma (Nigeria)
Tijani Babangida (Nigeria)
Julius Aghahowa (Nigeria)
Bonaventura Kalou (Pantai Gading)
Bakary Kone (Pantai Gading)
Didier Drogba (Pantai Gading)
Salif Diao (Senegal)
Khalilou Fadiga (Senegal)
Mohamed Kader (Togo)
Ali Kaabi (Tunisia)
Nejib Ghommidh (Tunisia)
Mokhtar Douieb (Tunisia)
Skander Souayeh (Tunisia)
Raouf Bouzaiene (Tunisia)
Zied Jaziri (Tunisia)
Jaouhar Mnari (Tunisia)
Radhi Jaidi (Tunisia)
Read More

Partisipasi Klub (1930-1934)


Argentina:
Talleres, Quilmes, Boca Juniors, Central Norte Tucuman, Estudiantil Porteno, Racing, Sportivo Barracas, Boca Juniors, Estudiantes de La Plata, San Lorenzo, Sportivo Buenos Aires, Lanus, Huracan, Gimnasia y Esgrima La Plata, Colon de Santa Fe, Club Atletico Defensores de Belgrano, Club Atletico Barracas Central, Atletico Sarmiento, Club Sportivo Alsina, Club de Gimnasia y Esgrima de Mendoza, Club Sportivo Desamparados, Club Almagro, Club Sportivo Dock Sud, Godoy Cruz Mendoza, Union de Santa Fe.

Cile:
Audax Italiano, Colo-Colo, Arturo Fernandez Vial, Santiago Wanderers, Boca Juniors Antofagasta, La Cruz Valparaiso, Chile Rangers.

Prancis:
FC Antibes, Racing Club de France, CASG Paris, Amiens AC, Excelsior AC Roubaix, CA Paris, FC Sochaux, Red Star Paris, FC Sete, SC Montpellier, AC Nimes, Olyimpique de Marseille, Lille OSC, RC Paris, Fives, Strasbourg, FC Mulhouse, FC Rouen, OC Lillois, RC Roubaix.

Meksiko:
Atlante, Marte, America, Necaxa.

Yugoslavia (Serbia):
SK Beograd, Jugoslavija Beograd, ASK Beograd, Vojvodina Novi Sad, BSK Beograd

Brasil:
Santos, Botafogo, Flamengo, Vasco da Gama, Sao Cristovao, Fluminense, America, Goytacaz, Ypiranga Niteroi, Americano, Sao Paulo da Floresta.

Bolivia:
Club Bolivar, Oruro Royal, Litoral, Calavera La Paz, CS San Jose Oruro, Alianza Oruro, Universitario La Paz, The Strongest.

Uruguay:
Nacional, Penarol, Rampla Juniors, Miramar Misiones, Bella Vista, Racing Club, Olimpia, Montevideo Wanderers.

Rumania:
Gloria Arad, Belvedere Bucuresti, Chizenul Timisoara, UDR Resita, Dragos Voda Cernauti, FC Oradea, FC Bihor, Banatul Timisoara, Sportul Studentesc, Juventus Bucuresti, FC Unirea Tricolor Bucuresti, Venus Bucuresti, Olympia Bucuresti, Maccabi Bucuresti, CAO Oradea, Ripensia Timisoara, RGMT Timisoara, Crisana Oradea, Universtatea Cluj.

Peru:
Universitario de Deportes, Lawn Tennis de la Exposicion, Alianza Lima, Association FBC, Tarapaca Ferroviario, Sporting Tabaco, Progreso, Italiano Lima.

Italia:
Ambrosiana Inter, AC Milan, Juventus, Napoli, AS Roma, SS Lazio, Bologna, Fiorentina.

Amerika Serikat:
Providence Gold Bugs, Cleveland Slavia, New York Giants, New York Nationals, Beford Whalers, Philadelphia Cricket Club, Fall River Marksmen, Ben Millers, Detroit Holley Carburetor, Baltimore Canton, Pawtucket Rangers, Pittsburg Curry Silver Tops, Philadelphia German-Americans, St. Louis Stix, Baer & Fuller, Chicago Wonderbolts, Brooklyn Celtics, New York Americans.

Paraguay:
Olimpia, Libertad, Sportivo Luqueno, Presidente Hayes, Nacional, Guarani, River Plate, Cerro Porteno.

Belgia:
SC Anderlechtois, Daring Club de Bruxelles Societe Royale, Royal Beerschot AC, Royal Racing Club de Bruxelles, Royal Antwerp FC, FC Brugeois, RC de Malines Societe Royale, FC Malinois, FC Excelsior Hasselt, Liersche Sportkring, Royal Standar Club Liege, R. Union Saint-Gilloise, Royal Racing Club de Gand, Royal Berchem Sport, KSK Liersche.

Cekoslovakia:
Sparta Praha, Slavia Praha, Teplitzer FK, SK Zidenice.

Jerman:
Fortuna Dusseldorf, VfB Speldorf, TuS Duisburg, FV Saarbrucken, Rot-Weiss Frankfurt, TSV Schwaben Augsburg, Alemannia Aachen, SV Hamburg, SpVgg Viktoria Hamburg, Waldhof Mannheim, Wacker Munche, FC Schalke 04, SV Union Hamborn.

Austria:
Rapid Wien, Wiener SC, First Vienna, Admira Wien, Wacker Wien.

Spanyol:
Espanyol, Sevilla FC, Deportivo de La Coruna, Athletic Bilbao, Real Madrid, Real Oviedo, Real Betis, Real Sociedad, FC Barcelona.

Hungaria:
Ujpesti TE, MTK Hungaria FC, Ferencvarosi TC, Debreceni Bocskai FC, Kispesti FC, MTK Hungaria FC.

Swiss:
Grasshopper-Club Zurich, FC Lugano, FC Bern, FC Nordstern Basel, FC Luzern, Servette FC, Lausanne Sports, FC Basel, FC La Tour-de-Peilz, FC Bienne-Biel.

Swedia:
IFK Goteborg, Orgryte IS, AIK Solna, Helsingborgs IF, IFK Eskilstuna, Sandvikens IF, GAIS, Gefle IF Borlange, IF Elfsborg Boaras, IK Sleipner Norrkoping, IFK Grangesberg.

Belanda:
Ajax Amsterdam, ZAC, HBS Craeyenhout, Go Ahead Eagles Deventer, Xerxes Rotterdam, DFC Dordrecht, KFC Koog, NOAD Breda, SC Feyenoord Rotterdam, Longa Tilburg, Quick Den Haag, HFC Haarlem, DHC, PSV Eindhoven, ADO Den Haag, Unitas Gorinchem, Neptunus Rotterdam.

Mesir:
Al-Olympi Alexandria, Zamalek Mokhtalat, Al-Ahly National SC, Cairo Shourta Police, Al-Masry AC Port Said, Union Recreation Ithad.
Read More

Dutch East Indies

Paris, 15 Juni 1938. Berlangsung pertandingan antara Hindia Timur Belanda (Dutch East Indies) dan Hungaria. Laga DEI, yang dilatih oleh Jan Mastenbroek, kontra Hungaria ini terjadi dalam babak penyisihan pertama. Kala itu belum berlaku sistem setengah kompetisi (Round Robin) sehingga tim yang kalah langsung tersingkir. Istilah sekarang kita kenal dengan babak "knock out". Dutch East Indies tak lain ialah cikal bakal tim nasional Indonesia. Keikutsertaan Hindia Belanda Timur masih bernaung di bawah bendera Belanda. Momentum ini sangat unik karena secara tidak langsung kita, Indonesia, sebenarnya pernah pula ikut serta dalam Piala Dunia. Bahkan kita dapat disebut sebagi pionir bagi kawasan Asia. Dengan ikut sertanya DEI, maka terdapat dua bendera Belanda yang berkibar di Prancis 1938, yang satunya ialah tim nasional Belanda sendiri.

Anggota skuad Hindia Belanda Timur di Piala Dunia 1938 di Prancis:

Sutan Anwar (Vios Batavia), Van Beusekom LN (Hercules Batavia), Bing Mo Heng (Tiong Hoa Soerabaja), Doorst, GHVL Faulhaber (Djocoja), J. Harting (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Batavia), Frans Albert Meeng (SVB Batavia), Ahmad Nawir (HBS Soerabaja), Isaak Pattiwael (Jong Ambon Batavia), Jack Samuels (Excelsior Soerabaja), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), MJ Hans Taihitu (Jong Ambon Batavia), Tang Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan Mo Heng (HCTNH Malang), Tan See Han (Tiong Hoa Soerabaja), Teilherber (Djocoja), R. Telwe (HBS Soerabaja), G. van den Burgh (SVV Semarang), Hendrikus V. Zomers (Hercules Batavia).
Read More

Club 19

Usia puncak seorang pesepakbola pada umumnya setelah memasuki "twenty-something" atau 20 tahun ke atas. Namun pemuda-pemuda belia ini telah dipercaya oleh para pelatihnya untuk menghuni skuad tim Piala Dunia negara masing-masing. Sebagian mendapatkan kesempatan untuk tampil, sebagian tidak. Namun kredit perlu kita berikan kepada mereka atas capaian karir yang istimewa sebelum usia mereka genap 20 tahun. Maka dari itu sekelompok "young guns" ini boleh kita sebut sebagai Club 19.


Uruguay 1930

Edmundo Piaggio, Argentina, 3 Oktober 1910
Manuel Rosas, Meksiko, 17 April 1912
Momcilo Dokic, Yugoslavia, 27 Pebruari 1911
Aleksandar Tirnanic, Yugoslavia, 15 Juli 1911
Carvalho Leite, Brasil, 25 Juni 1912
Segundo Durandal, Bolivia, 17 Maret 1912
Nicolae Kovacs, Rumania, 23 Desember 1911
Jose Maria Lavalle, Peru, 5 Juni 1911
Lizardo Rodriguez Nue, Peru, 30 Agustus 1910
Delfin Benitez Caceres, Paraguay, 24 September 1910
Andre Saeys, Belgia, 20 Pebruari 1911

Italia 1934

Cestmir Patzel, Cekoslovakia, 2 Desember 1914
Edmund Conen, Jerman, 10 Nopember 1914
Albert Guinchard, Swiss, 10 Nopember 1914
Louis Gabrillargues, Prancis, 16 Juni 1914
Manus Vrauwdeunt, Belanda, 29 April 1915
Roberto Iraneta, Argentina, 21 Maret 1915
Mustafa Mansour, Mesir, 2 Agustus 1914
Georges Putmans, Belgia, 29 Mei 1914

Brasil 1950
Guillermo Diaz, Cile, 29 Desember 1930
Angel Berni, Paraguay, 9 Januari 1931
Ruben Moran, Uruguay, 6 Agustus 1930

Swiss 1954
Tas Coskun, Turki, 23 April 1935
Raul Arellano, Meksiko, 28 Pebruari 1935
Omar Mendez, Uruguay, 7 Agustus 1934
Mario Mendez,Uruguay, 11 Mei 1938

Swedia 1958
Karl-Heinz Schnellinger, Jerman Barat, 31 Maret 1939
Ove Ohlsson, Swedia, 19 Agustus 1938
Pele, Brasil, 23 Oktober 1940

Cile 1962

Dobromir Zhechev, Bulgaria, 12 Nopember 1942
Georgi Asparukhov, Bulgaria, 4 Mei 1943
Gianni Rivera, Italia, 18 Agustus 1943
Antonio Mota, Meksiko, 1 Januari 1943

Inggris 1966

Lee Chang-myung, Korea Utara, 2 Januari 1947
An Se-bok, Korea Utara, 29 Oktober 1946
Oscar Mas, Argentina, 29 Oktober 1946
Edu, Brasil, 6 Agustus 1949
Elias Figueroa, Cile, 25 Oktober 1946

Meksiko 1970

Marco Antonio, Brasil, 6 Pebruari 1951

Jerman 1974

Martin Hoffmann, Jerman Timur, 22 Maret 1955
Zdzislaw Kapka, Polandia, 7 Desember 1954
Vladimir Petrovic, Yugoslavia, 1 Juli 1955
Julio Cesar Jimenez, Uruguay, 27 Agustus 1954

Argentina 1978

Andrzej Iwan, Polandia, 10 Nopember 1959
Enrique Lopez Zarza, Meksiko, 25 Oktober 1958
Hugo Rodriguez, Meksiko, 14 Maret 1959

Espana 1982

Abdulaziz Mohammed, Kuwait, 4 Desember 1962
Norman Whiteside, Irlandia Utara, 7 Mei 1965
Sergei Rodionov, 3 September 1962
Wynton Rufer, Selandia Baru, 29 Desember 1962

Meksiko 1986

Abdellah Bidar, Maroko, 19 Agustus 1967
Zsolt Petry, Hungaria, 23 September 1966

Italia 1990

Ronald Gonzalez, Kosta Rika, 8 Agustus 1970
Chris Henderson, Amerika Serikat, 1970

USA 1994

Sunday Oliseh, Nigeria, 14 September 1974
Ronaldo Luiz Nazario, Brasil, 22 September 1976
Read More

John L. Langenus


John Langenus, lahir di Berchem, Belgia, pada tanggal 8 Desember 1891, adalah orang pertama yang menjadi wasit pertandingan final Piala Dunia. Kepercayaan FIFA kepada Langenus untuk memimpin laga pamungkas Uruguay melawan Argentina pada tahun 1930 sangat masuk akal. Reputasi dan pengalamannya sebagai wasit internasional sangat meyakinkan. Sebelum berkiprah di Piala Dunia, Langenus telah teruji dalam event sepakbola Olimpiade musim panas tahun 1928.

Terdapat beberapa hal menarik tentang Langenus. Pertama, meskipun ia seorang Belgia, namun orang tua Langenus memberinya nama layaknya seorang penganut Anglikan. Langenus seharusnya memiliki nama depan "Jean", bukan "John". Maka dari itulah dalam versi lain ia juga disebut sebagai Jean Langenus. Kedua, nama lebih lengkapnya adalah John L. Langenus. Inisial "L" tidak diketahui kepanjangannya, atau setidaknya, penulis belum menemukan sumber resmi yang memuat informasi tentang hal ini. Ketiga,
Langenus selalu mengenakan seragam yang sama, yakni jas berdasi dan topi, tanpa mempedulikan cuaca selama pertandingan berlangsung.

Dalam ujian seleksi wasit, John L. Langenus tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang diberikan oleh tim penguji. Pertanyaan tersebut berbunyi, "What is the correct procedure if the ball strikes a low-flying plane?".

John L. Langenus meninggal dunia pada usia 61, tepatnya pada tanggal 1 Oktober 1952.
Read More

Arnaldo Cezar Coelho


Arnaldo David Cezar Coelho, lahir pada tanggal 15 Januari 1943, adalah wasit pertama dari luar Eropa yang memimpin pertandingan final Piala Dunia. Ia dipilih oleh FIFA sebagai pengadil pertandingan final Piala Dunia 1982 di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, antara Italia dan Jerman Barat.

Coelho mengawali karirnya sebagai wasit sepakbola pantai (beach soccer). Ia pernah menjadi wasit bergaji termahal di dunia. Coelho resmi menjadi wasit internasional pada tahun 1968. Selama mewasiti Piala Dunia 1978 dan 1982, ia memimpin 3 pertandingan dan menjadi hakim garis sebanyak 4 kali.

Setelah pensiun dari perwasitan, aktivitas Arnaldo Cezar Coelho tidak jauh-jauh dari sepakbola, yakni menjadi komentator di stasiun televisi Brasil, Rene Globo. Sedikit tambahan informasi, ia memiliki saudara laki-laki bernama Ronaldo Cezar Coelho, seorang tokoh politik negara Brasil dan pendiri Partai Sosial Demokratik (PSDB).
Read More

2006 Jerman

Diantara kemenangan Italia, Ronaldo Luiz Nazario da Lima menorehkan prestasi tersendiri. Ia melewati rekor Gerd Mueller sebagai pencetak gol terbanyak kumulasi Piala Dunia; namun rekor Just Fontaine dalam satu turnamen masih bertahan. Dengan 15 golnya, Ronaldo boleh berbangga sebagai striker tersubur sejak FIFA World Cup diselenggaran pada tahun 1930. Marco Materazzi menjadi "public enemy number one" karena provokasi "busuknya" kepada Zinedine Zidane. Italia tampaknya mati kutu bila Zidane masih berada di lapangan. Maka Materazzi membikin ulang supaya Zidane terpancing. Benar! Zizou harus rela keluar lapangan yang berarti mengurangi jatah eksekutor andalan Les Bleus dalam adu penalti. Fabio Grosso pun tak kalah ketinggalan. Aksi "diving" nya saat melawan Australia membuat the Socceroos terluka. Italia memang penuh kasus jika mereka sukses. Tahun 1934 dan 1938 oleh propaganda fasisme Mussolini, 1982 oleh kasus doping Paolo Rossi, dan tahun ini pula, ada kasus tak mengenakkan menyertai kesuksesan Gli Azzurri, yaitu usaha bunuh diri mantan bek timnas dan Juventus, Gianluca Pessotto. Italia, Italia...kontroversi tiada akhir.
Read More

2002 Korea/Jepang

Lokasi baru, pastinya rekor baru pula. Terbukti sejumlah rekor terjadi. Meskipun bukan kemenangan terbesar, namun delapan gol tanpa balas yang dilesakkan oleh Der Panzer jerman ke gawang Arab Saudi sangat mencengangkan. Miroslav Klose tiba-tiba melesat namanya dengan empat gol pada pertandingan pembuka grup ini. Prancis membuat rekor terburuk juara bertahan dengan tanpa menang, tanpa mencetak gol, dan tidak lolos penyisihan. Senegal ikut mencoreng reputasi bekas penjajahnya itu lewat gol tunggal Papa Bouba Diop, Korea Selatan bertarung laksana "Taeguk Warriors". Mereka melibas tiga tim tangguh, Portugal, Italia, dan Spanyol. Apapun sinisme yang dialamatkan kepada mereka, Korsel tetap fenomenal. Mereka didukung oleh pelatih hebat Guus Hiddink dan menembus empat besar. Kelelahan yang teramat sangat membuat Korsel tumbang di tangan "the master of mentality" Jerman. Tendangan "first time" Michael Ballack menghentikan semua laju tuan rumah dalam seketika. Rekor tak berhenti di sini, Setelah lama dipegang oleh Bryan Robson, akhirnya rekor gol tercepat dalam sejarah. Ronaldo juga memutus mitos top scorer yang sejak 1982 hanya mencetak paling banyak 6 gol. Bahkan Rivaldo hampir saja menyamai prestasi Jairzinho. Sayangnya, ia tidak mampu mencetak gol pada pertandingan final melawan Jerman. Fenomena lain? Dua kekuatan sepakbola dunia Brasil dan Jerman untuk kali pertama berjumpa di Piala Dunia dan hebatnya, mereka bersua di pertandingan Final; lalu, Rigobert Song membuat "hattrick" Untuk ketigakalinya ia mendapatkan kartu merah setelah USA'94 dan Prancis'98. Asia memang eksotis, Asia memang penuh pesona!!!
Read More

1998 Prancis

Alles! Alles! Alles! Empat tahun sebelumnya media Prancis mencibir Les Bleus, "Prancis Juara Dunia 1998" karena kesal tim mereka gagal ke USA'94 yang berbuntut panjang: perkelahian di ruang ganti antara David Ginola dan Eric Cantona. Ah, ternyata cibiran itu menjadi kenyataan. Mungkin arwah Jules Rimet tidak lagi gusar di alam sana setelah menyaksikan tanah airnya berhasil menjadi juara. Spanyol yang termasuk diunggulkan tidak lolos ke 16 besar akibat blunder yang dilakukan oleh Andoni Zubizarretta. Kemenangan atas Bulgaria menjadi tidak berarti. Denmark bertarung sengit melawan Brasil. Acungan jempol diberikan oleh Peter Schmeichel kepada Rivaldo yang tampil hebat pada duel itu. Ariel Ortega menanduk Edwin van der Sar dan menjadi biang kegagalan Argentina menembus semifinal. Mungkin ini kutukan dari ulah "Mister Provocator" Diego Simeone yang sukses mengelabuhi David Beckham yang masih miskin pengalaman Piala Dunia. "One Stupid Boy and Ten Lion's Hearts", sangat menyakitkan jika satu anak bodoh itu harus menderita selama bertahun-tahun, persis seperti yang dialami oleh Stuart Pearce. Italia kembali takluk lewat adu penalti, Kroasia menjadi tim yang sangat dikagumi dan meraih medali perunggu, dan Prancis menjadi tim baru yang menjuarai Piala Dunia.
Read More

1994 USA

Apa jadinya jika Piala Dunia diadakan di negara yang sepakbolanya tidak populer, kalah dari bisbol, superbowl, dan basket? Ternyata Henry Kissinger, mantan US Secretary of State, berhasil meyakinkan Joao Havelange bahwa sepakbola (yang menurut lidah Amerika disebut "soccer") akan tetap menarik. Promosi besar-besaran dilakukan. Stadion mutakhir dengan "retractable roof" (atap anti hujan) dibangun di Detroit, diberi nama Pontiac Silverdome. Amerika Serikat menjadi tuan rumah edisi tahun ini. Roger Milla masih sanggup membawa panji "Indomitable Lions", bahkan mempertajam rekor sebagai pencetak gol tertua Piala Dunia (42 tahun) yang ia cetak ke gawang Rusia. Pada laga ini, Oleg Salenko membuat rekor hebat: mencetak 5 gol! Ini berarti menyamai rekor Emilio "the Hering" Butragueno ke gawang Denmark, 8 tahun silam. Sementara itu Argentina mencoba bangkit dari kesedihan. Mereka datang dengan membawa "the Magnificent Seven" (Maradona, Batistuta, Balbo, Simeone, Ruggeri, Caniggia, Redondo). Malangnya, segala rencana dirusak oleh kecerobohan Maradona yang ketahuan melakukan "doping". Kepada media ia mengatakan, "Mereka (FIFA) memenggal kakiku". Namun apa lacur, barangkali ini tuah dari tindakannya pada tahun 1986, dengan membawa-bawa nama Tuhan untuk berbuat tidak sportif. (red: Inggris kok dilawan...jangan sekali-kali...). Gheorghe Hagi ikut bersinar dengan gol spektakulernya ke gawang Kolombia. Kolombia berduka dengan tewasnya Andres Escobar oleh suporter ultra-nasionalis Kolombia karena ia membuat gol bunuh diri saat melawan Amerika Serikat (kejadian yang membuat John "the Superman" Harkes, pengirim bola waktu itu, sangat terpukul). Argentina tanpa Maradona kacau-balau dan dihajar oleh Rumania. Dari Afrika, kini giliran "Super Eagle" Nigeria yang mengepakkan sayapnya. Sayang sekali, mereka kalah pengalaman dari Italia, khususnya Roberto Baggio, yang tiba-tiba melesat setelah dalam tiga pertandingan grup tak bersuara. Baggio dipuja, namun akhirnya dicerca lantaran kegagalannya dalam adu penalti pada final melawan Brasil. "Gugurnya Sang Pahlawan," demikian salah satu media cetak Indonesia mengambil judul kegagalan Baggio. Ia dipersalahkan dan tidak lagi disentuh oleh Arrigo Sacchi sebelum "comeback to the place where he belonged" pada tahun 1998. Jerman tampil tanpa greget, diwarnai aksi pemecatan Stefan Effenberg, kemenangan kontrovesial melawan Spanyol, dan akhirnya tak berdaya di hadapan Hristo Stoichkov plus armada pemberani Bulgaria. Stoichkov membawa pulang sepatu emas bersama Oleg Salenko. Adapun Selecao memperlebar jarak dari Jerman dan Italia: juara dunia 4 kali. Romario menjadi sorotan media. Duetnya bersama Bebeto menjadi idola meskipun menjelang semifinal keduanya dikabarkan "tidak saling menyapa". Brasil di puncak dunia, meneruskan sukses konstituennya, Sao Paulo yang berjaya di Piala Toyota 1993. Piala Dunia kali ini justru tanpa kehadiran Inggris, nenek moyang the Americans. Mereka digagalkan oleh Belanda. Asia ikut populer lewat aksi dribbling maut Said Owairan ke gawang Belgia yang dijaga peraih penghargaan Lev Yashin Award, Michel Preud'homme.
Read More

1990 Italia

Italia Novanta! Piala Dunia ini mendapatkan penilaian tersendiri oleh para kritisi sepakbola, yakni dalam hal pemilihan maskot. Maskot Italia'90 dinilai sebagai maskot terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia. Sekali lagi Afrika menggoyang dunia; menggebrak langsung dengan menggasak juara bertahan Argentina. Gol tunggal Francois-Omam Biyik cukup untuk membuat peta persaingan menjadi kacau. Sedianya jika langkah Argentina mulus (menjadi juara grup), maka Gli Azzurri mungkin tidak akan berjumpa dengan mereka pada semifinal; sebuah kenyataan yang teramat sakit untuk dikenang. Mengapa harus berjumpa Diego Maradona di Napoli? Kota yang seluruh warganya telah sepakat berseru, "Italia adalah tim kesayangan kami, tapi Diego adalah pahlawan kota kami!". Setelah Claudio Caniggia mengoyak keperawanan gawang Walter Zenga, Italia takluk dalam adu penalti. Dua algojo mereka, Aldo Serena dan "Mister 17" Roberto Donadoni menghancurkan mimpi seantero Italia. Tanda-tanda nasib "apes" Italia ini nampaknya telah muncul sejak awal: pada laga penyisihan grup A kontra Amerika Serikat, Gianluca Vialli juga gagal mengeksekusi penalti ke gawang Tony Meola. Kembali ke Kamerun, ternyata keterbelakangan yang identik dengan orang Afrika masih lebih pintar dan cerdas ketimbang seorang Kolombia bernama Rene Higuita. "Ini Piala Dunia, Bung!", mungkin ini yang dibisikkan oleh Roger Milla, "the oldest player who scored in the FIFA World Cup". Higuita sangat bodoh memainkan bola di hadapan Milla dan akibatnya fatal: Gol! Kamerun melaju ke 8 besar menantang Inggris. Gary Lineker, dengan segudang pengalamannya, mengambil momentum yang tepat di dalam kotak penalti. Dua eksekusinya sukses sehingga pasukan Sir Robert William Robson melaju ke semifinal. Itulah sepenggal kisah menarik dari Italia, dihiasi dengan keberhasilan Costa Rica (di bawah pelatih "one of a kind" Velibor Milutinovic), dominasi Lothar Matthaeus, dan tangis Diego Maradona di Stadion Olimpico usai final berakhir. Jika kita hendak mengambil nilai minus, maka tertuju pada absennya Meksiko. Federasi Sepakbola Meksiko diskors oleh FIFA karena pencurian umur dalam kejuaraan yunior.
Read More

1986 Meksiko

Pengalaman pahit empat tahun lalu benar-benar membuat Maradona paham bagaimana cara bersikap di lapangan sebagai seorang profesional. Ia kerahkan segala daya untuk mengangkat prestasi Argentina yang hancur berantakan. Jika akhirnya Tim Tango menjadi juara dunia, kita boleh menyebutnya sebagai "Maradona plus 21 pemain lainnya" lah yang menjadi juara. Di luar "dosa abadi" yang ia perbuat terhadap Peter Shilton lewat gol "tangan Tuhan", El Pibe de Oro langsung membayar kontan tindakannya ini dengan gol....akhh....teramat sulit untuk dituliskan dengan kata-kata....semua orang sudah tahu bagaimana kualitas gol itu! Wakil Afrika, Maroko, membuat mata dunia terbelalak, bahwa sepakbola bukan hanya seputar Eropa dan Amerika Latin. Bahwa apa yang dilakukan oleh Aljazair empat tahun yang lalu bukan ketidaksengajaan. Lewat aksinya yang penuh percaya diri pada penyisihan Grup F, diantaranya dengan menaklukkan Portugal dan menahan Inggris, Maroko melaju ke 16 besar untuk menantang Jerman Barat. Pada babak inipun mereka masih tegar berdiri sebelum gol tendangan bebas Lothar Matthaeus menghentikan langkah raksasa mereka. Inggris kecewa, Inggris terluka. Namun sekiranya ada sedikit penawar duka. Gary Lineker, seorang "True Gentleman" (karena tidak pernah mendapatkan kartu sepanjang karir profesionalnya), memuncaki daftar pencetak gol. Ia juga mengikuti takdir Geoff Hurst dengan mencetak hattrick walaupun itu bukan pada partai final.
Read More

1982 Spanyol

From zero to hero. Itu julukan yang tepat diberikan kepada Paolo Rossi. Punggawa Juventus ini sebelumnya terlibat dalam kasus suap; akan tetapi ia membuktikan bahwa dirinya masih berarti bagi bangsa dan negara. Rossi menjadi top scorer edisi 1982 dan membawa Italia menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya (2 trofi Jules Rimet; 1 trofi FIFA World Cup). Dino Zoff pun tak mau ketinggalan membuat sejarah sebagai orang tertua yang tampil di final dan menang. Sementara untuk posisinya sebagai kapten-penjaga gawang, Zoff mengikuti jejak Gianpiero Combi pada tahun 1938. Espana'82 menyisakan cerita manis bagi Bryan Robson. "Captain Marvel" ini menjadi pencetak gol tercepat. Espana'82 menyisakan cerita pahit bagi Diego Maradona. Pemuda yang mengorbit lewat Piala Dunia U-17 tahun 1979 di Tokyo (salah satunya mengalahkan Indonesia dengan skor 5-0), tampaknya masih terlalu hijau bertarung di Piala Dunia. Aksinya menginjak perut pemain Brasil membuat Maradona diusir dari lapangan. Sebuah fakta yang bertolak belakang dengan nuansa yang didengang-dengungkan sebelumnya. Bahkan sebelumnya, pada pemilihan nomor punggung Maradona ngotot untuk memakai nomor punggung 10 yang sebelumnya dikenakan oleh Mario Kempes. Kempes pun mengalah dengan memilih nomor 11. Sementara itu, pemain Irlandia Utara, Norman Witheside, memecahkan rekor Pele sebagai pemain termuda yang tampil di Piala Dunia. Aljazair membuat kejutan dengan mengalahkan Jerman Barat 2-1 melalui gol Lakhdar Belloumi dan Rabah Madjer, tetapi mereka gagal lolos ke babak selanjutnya. Konon kabarnya, semua itu karena "ulah" Austria yang memberikan kemenangan kepada negara serumpun, Jerman Barat. Kelak, nama Rabah Madjer benar-benar menjadi momok bagi tim Jerman. Bersama FC Porto, ia mencetak gol dan mengalahkan Bayern Munich di final Piala Champions 1987 di kota....Wina! A-ha!!! Truth was truly out there...
Read More

1978 Argentina

Orang Argentina berpesta di tengah sinisme orang Brasil. Lewat media tersebar komentar miring menjelang laga terakhir yang menentukan tiket ke final, bahwa jika Brasil menang dengan skor 50-0, maka Argentina pasti akan mengalahkan lawannya dengan skor 51-0. Hal ini terjadi karena Argentina unggul selisih gol dari Brasil. Kontroversi berlanjut ke partai final. Belanda yang kembali sukses menjadi finalis mendapatkan "tekanan mental". Pihak Argentina memprotes perban yang dikenakan oleh Rene van der Kerkhoff. Pihak Belanda menanggapi bahwa FIFA telah mengizinkan Rene untuk mengenakan perban dan ia telah mengenakannya pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Solusi diberikan oleh FIFA dengan melapis perban Rene. Belanda kembali kecewa karena gagal lagi. Padahal skuad yang saat itu dilatih oleh salah satu pelatih legendaris dunia, Ernst Happel, telah bermain bagus. Si kembar Rene dan Willy van der Kerkhoff membawa oleh-oleh yang membuat bangga kedua orang tua mereka: sama-sama mencetak gol di Piala Dunia, Mario Kempes mengikuti jejak Guillermo Stabile sebagai pencetak gol terbanyak meskipun jumlah golnya lebih sedikit (Stabile 8, Kempes 6). Ke Belanda lagi, Rob Rensenbrink mencetak gol ke-1000 sepanjang sejarah Piala Dunia.
Read More

Perjalanan Tim Afrika di Piala Dunia


Match results of the African CAF representatives to the FIFA World Cup finals.


ITALY 1934
27/05/1934 Hungary v Egypt 4-2

MEXICO 1970
03/06/1970 Germany FR v Morocco 2-1
06/06/1970 Peru v Morocco 3-0
11/06/1970 Bulgaria v Morocco 1-1

GERMANY FR 1974
13/06/1974 Zaire v Scotland 0-2
18/06/1974 Yugoslavia v Zaire 0-9
22/06/1974 Zaire v Brazil 0-3

ARGENTINA 1978
02/06/1978 Tunisia v Mexico 3-1

06/06/1978 Poland v Tunisia 1-0
10/06/1978 Germany v Tunisia 0-0

ESPANA 1982
15/06/1982 Peru v Cameroon 0-0
19/06/1982 Poland v Cameroon 0-0
23/06/1982 Italy v Cameroon 1-1
16/06/1982 Germany FR v Algeria 1-2
21/06/1982 Algeria v Austria 0-2
24/06/1982 Algeria v Chile 3-2

MEXICO 1986
03/06/1986 Algeria v Northern Ireland 1-1
06/06/1986 Brazil v Algeria 1-0
12/06/1986 Algeria v Spain 0-3
02/06/1986 Morocco v Poland 0-0
06/06/1986 England v Morocco 0-0
11/06/1986 Portugal v Morocco 1-3
17/06/1986 Morocco v Germany FR 0-1

ITALY 1990
08/06/1990 Argentina v Cameroon 0-1
14/06/1990 Cameroon v Romania 2-1
23/06/1990 Cameroon v Colombia 2-1
01/07/1990 England v Cameroon 3-2
12/06/1990 Netherlands v Egypt 1-1
17/06/1990 Republic of  Ireland v Egypt 0-0
21/06/1990 England v Egypt 1-0

USA 1994
19/06/1994 Cameroon v Swedia 2-2
24/06/1994 Brasil v Cameroon 3-0
28/06/1994 Rusia v Cameroon 6-1
21/06/1994 Nigeria v Bulgaria 3-0
25/06/1994 Argentina v Nigeria 2-1
30/06/1994 Yunani v Nigeria 0-2
19/06/1994 Belgia v Maroko 0-1
25/06/1994 Arab Saudi v Maroko 2-1
29/06/1994 Maroko v Belanda 1-2
05/07/1994 Nigeria v Italia 1-2

FRANCE 1998
10/06/1998 Maroko v Norwegia 2-2
16/06/1998 Brasil v Maroko 3-0
23/06/1998 Skotlandia v Maroko 0-3
12/06/1998 Prancis v Afrika Selatan 3-0
18/06/1998 Afrika Selatan v Denmark 1-1
24/06/1998 Afrika Selatan v Arab Saudi 2-2
13/06/1998 Spanyol v Nigeria 2-3
19/06/1998 Nigeria v Bulgaria 1-0
24/06/1998 Nigeria v Paraguay 1-3
15/06/1998 Inggris v Tunisia 2-0
22/06/1998 Kolombia v Tunisia 1-0
26/06/1998 Rumania v Tunisia 1-1
28/06/1998 Nigeria v Denmark 1-4

KOREA/JAPAN 2002
31/05/2002 Prancis v Senegal 0-1
06/06/2002 Denmark v Senegal 1-1
11/06/2002 Senegal v Uruguay 3-3
02/06/2002 Paraguay v Afrika Selatan 2-2
08/06/2002 Afrika Selatan v Slovenia 1-0
12/06/2002 Afrika Selatan v Spanyol 2-3
01/06/2002 Republik Irlandia v Kamerun 1-1
06/06/2002 Cameroon v Arab Saudi 1-0
11/06/2002 Kamerun v Jerman 0-2
02/06/2002 Argentina v Nigeria 1-0
07/06/2002 Swedia v Nigeria 2-1
12/06/2002 Nigeria v Inggris 0-0
05/06/2002 Rusia v Tunisia 2-0
10/06/2002 Tunisia v Belgia 1-1
14/06/2002 Tunisia v Jepang 0-2
16/06/2002 Swedia v Senegal 1-2
22/06/2002 Senegal v Turki 0-1

GERMANY 2006
10/06/2006 Argentina v Pantai Gading 2-1
16/06/2006 Belanda v Pantai Gading 2-1
21/06/2006 Pantai Gading v Serbia & Montenegro 3-2
11/06/2006 Angola v Portugal 0-1
16/06/2006 Meksiko v Angola 0-0
21/06/2006 Iran v Angola 1-1
13/06/2006 Korea Selatan v Togo 2-1
19/06/2006 Togo v Swiss 0-2
23/06/2006 Togo v Prancis 0-2
14/06/2006 Tunisia v Arab Saudi 2-2
19/06/2006 Spanyol v Tunisia 3-1
23/06/2006 Ukraina v Tunisia 1-0
12/06/2006 Italia v Ghana 2-0
17/06/2006 Ghana v Republik Ceko 2-0
22/06/2006 Ghana v Amerika Serikat 2-1
27/06/2006 Brasil v Ghana 3-0
Read More

1974 Jerman Barat

Sebuah fenomena bahwasanya dua tim Jerman, Timur dan Barat, berada dalam satu grup. Jerman Timur berhasil menang dalam perang saudara ini; meskipun justru Jerman Barat yang melenggang dengan pasti. Namun ternyata perhatian tidak tertuju pada pertemuan emosional ini, melainkan pada kiprah De Oranje Belanda. Melalui "brainchild" fantastis Rinus Michels, Belanda menyuguhkan permainan yang menggairahkan bertajuk "total football". Ah, indah sekali jika dalam pertandingan sepakbola dipenuhi oleh permainan menyerang. Lewat kepiawaian jendral lapangan tengah Johan Cruijff (pemain terbaik Eropa tiga kali), Belanda membius dunia dan menantang Jerman Barat di Stadion Olimpiade Munich. Setelah sempat unggul melalui eksekusi penalti Johan Neeskens, Belanda takluk oleh dua gol tuan rumah, Paul Breitner (lewat penalti juga) dan "Der Bomber" Gerd Mueller. Jerman Barat meraih juara kali kedua, Franz Beckenbauer menjadi orang paling bahagia karena meraih double winners: Juara Piala Champions dan Piala Dunia. Di tengah gemerlapnya para bintang, muncul dua orang Polandia bertalenta hebat: Grzegorz Lato (pencetak gol terbanyak) dan Kazimierz Deyna (satu dari tiga pemain terbaik turnamen ini). Sebagai catatan, trofi yang diberikan kepada Jerman Barat ini berganti nama menjadi "FIFA World Cup". Trofi ini keluaran baru dari FIFA karena "Jules Rimet Trophy" telah menjadi milik selamanya Brasil sebagai penghargaan atas prestasinya menjadi juara sebanyak tiga kali.
Read More

1970 Meksiko

Pele berada di puncak kejayaan. Sempat melempem 4 tahun sebelumnya, "the Black Pearl" ini membuktikan kemahabintangannya di Meksiko. Brasil ia antarkan ke partai puncak untuk bertemu Italia. Italia sendiri seperti kehabisan bensin saat berlaga di final selepas pertandingan yang emosional dan melelahkan melawan Jeman Barat pada laga semifinal (salah satu "the best match of all time" Piala Dunia). Gli Azzurri lumpuh total, pertahanan catenaccionya diobrak-abrik oleh Pele, Jairzinho, dan Carlos Alberto Torres. Brasil menghajar juara dunia dua kali ini dengan skor mantap, 4-0 sekaligus mengklaim diri sebagai pemilik abadi trofi Jules Rimet. Mexico'70 adalah Piala bertabur pesona dan bintang. Banyak pengamat mengatakan bahwa edisi kali ini merupakan yang terdahsyat sepanjang masa. Dua nama selain Pele yang perlu diberi kredit ialah Gerd Muller (top scorer, 10 gol) dan Jairzinho (selalu mencetak gol dalam setiap pertandingan). Mario Zagallo membuat sejarah karena menjadi juara dunia sebagai pelatih dan sebagai pemain.
Read More

1966 Inggris

Kata orang Inggris, "football comes home". Negara ini mengklaim diri sebagai nenek moyangnya sepakbola. Segala ambisi dicurahkan untuk menjadi yang terbaik. Di tengah persiapan itu, terjadi insiden yang memalukan persepakbolaan Inggris: trofi Jules Rimet hilang selama beberapa hari, sebelum ditemukan oleh seekor anjing pelacak bernama Pickles. Pickles seolah menjadi dewa (atau dewi?) penyelamat muka bangsa Inggris. St. George's Cross melaju ke final dan meraih trofi setelah mengalahkan Jerman Barat dengan skor 4-2. Salah satu gol Inggris yang dicetak oleh Geoff Hurst masih menjadi perdebatan hingga kini. Pasalnya, bola yang ia sundul membentur mistar, pad saat memantul ke lapangan masih berada di luar garis gawang. Akan tetapi wasit mengesahkan gol itu. Jadilah Hurst mengukir sejarah sebagai orang pertama yang mencetak hattrick dalam laga pamungkas. Sementara itu Asia boleh berbangga atas sukses Korea Utara membekuk tim unggulan Italia lewat gol tunggal Park Doo-ik. Mereka terus mengejutkan dunia dengan menantang Portugal pada perempat final. Sayang sekali mental para pemain Korut terkorup oleh gedoran Eusebio dkk. Setelah sempat unggul 3-0, Portugal membalikkan keadaan menjadi menang 5-3!
Read More

1962 Cile

Sedikit cerita tidak mengenakkan terjadi. Diantaranya tuduhan mencuri di pasar oleh polisi Cile kepada Bobby Moore dan baku hantam antarpemain Cile dan Italia. Brasil mempertahankan gelar dengan mengalahkan Cekoslovakia. Gelar top scorer dihuni secara beramai-ramai oleh lima orang: Leonel Sanchez (Cile), Valentin Ivanov (Uni Soviet), Vava (Brasil), Garrincha (Brasil), dan Drazen Petrovic (Yugoslavia). Ada satu nama lagi yang sangat dekat dengan sepakbola Indonesia. Ialah Jozef Masopust. Reputasi Masopust sebagai pemain terbaik Eropa terbukti. Meskipun kalah di final, namun ia mencatatkan diri sebagai salah satu pencetak gol pertandingan final, sejajar dengan Stabile, Cea, Iriarte, Ghiggia, Morlock, Rahn, Pele, dan sebagainya. Masopust yang sekarang telah tiada, sempat menyumbang perkembangan sepakbola Indonesia dengan menjadi pelatih tim Merah Putih.
Read More

1958 Swedia

Eropa kembali menjadi tuan rumah. Tetapi, kondisinya berbeda dari tahun 1938. Kali ini tidak ada aksi protes yang berarti dari kawasan Amerika Selatan. Brasil membuat sejarah: menjadi tim Amerika Latin yang juara di tanah Eropa, sebuah rekor yang belum tersamai hingga Germany 2006. Adalah seorang pemuda belasan tahun bernama lahir Edson Arantes do Nascimento. Sapaan akrabnya adalah Pele. Ia tidak menjadi pencetak gol tersubur pada turnamen ini, tetapi golnya yang spektakuler ke gawang Swedia dalam pertandingan final boleh jadi adalah gol terbaik laga final Piala Dunia. Yah, Swedia 1958 memang penuh rekor. Just Fontaine, tukang gedor Les Bleus Prancis mengukir 13 gol dan masih bertahta di puncak pemegang top skorer paling banyak dalam satu turnamen. Tidak berhenti di sini, skor pertandingan puncak, 5-2 untuk Brasil adalah final dengan jumlah gol terbanyak (7 gol). Cerita manis diukir oleh seorang kelahiran Irlandia yang membela Amerika Serikat, Joseph Larry Gaetjens. Sebagai the Irishman, merupakan suatu kebanggaan jika berhasil menghempaskan Inggris. Joe, demikian panggilannya, berhasil melakukannya. Gol tunggalnya bagaikan pisau guilotine yang memenggal kepala orang Inggris.
Read More

1954 Swiss

Piala Dunia kembali ke tanah Eropa. Siapapun waktu itu sangat yakin dengan kedidgayaan "the Magical Magyar" Hungaria, peraih medali emas Olimpiade 1952 di Helsinky. Sepak terjang Hungaria bagaikan menebar mimpi buruk dan maut. Terbukti mereka menjadi produsen gol terbanyak dengan melibas lawan-lawannya hingga luluh-lantak. Tak terkecuali terhadap Jerman Barat, Puskas, Czibor, Kocsis ("Man with Golden Head", top skorer dengan 11 gol), dan Hidegkuti merajalela dan menghajar Der Panzer tanpa ampun 8-3 pada babak penyisihan. Akan tetapi, lain penyisihan lain final, justru Hungaria hilang kendali dan dibalas oleh Fritz Walter dkk. Jerman Barat menjadi juara dunia 1954 setelah menaklukkan Hungaria dengan skor 3-2.
Read More

1950 Brasil

Brasil menjadi tuan rumah. Mereka sangat berambisi untuk menggondol trofi Jules Rimet. Apa hendak dikata, justru dalam pertandingan terakhir, Selecao dikalahkan oleh Uruguay. Perlu dicatat bahwa Piala Dunia tahun ini tidak menyelenggarakan pertandingan final. Di luar kekecewaannya, Leonidas da Silva membuat Tim Samba tersenyum lewat gelar top scorer, yang berarti mengulangi orang Brasil lainnya, Ademir Marquez de Menezes yang berjaya 12 tahun lalu di Prancis.
Read More

1938 Prancis

FIFA tampaknya ingkar janji. Kesepakatan awal sedianya FIFA akan memberikan jatah tuan rumah secara bergantian antara dua kekuatan sepakbola terbaik saat itu: Eropa dan Amerika Selatan. Tetapi, justru Prancis yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Berarti, Eropa menjadi tuan rumah sebanyak dua kali berturut-turut. Sebagai wujud protes, dua tim kuat zona Concacaf, juara bertahan Uruguay dan Argentina, menolak ikut serta. Piala Dunia 1938 ini adalah yang terakhir sebelum Perang Dunia II meletus. Apapun yang terjadi, Vittorio Pozzo membuat sejarah sebagai pelatih yang juara dua kali. Piala Dunia 1938 juga berkesan bagi Nusantara. Di bawah nama Dutch East Indies, cikal bakal Republik Indonesia menjadi tim pertama Asia yang ikut putaran final. Tampil sekali langsung dikalahkan oleh Hungaria dengan skor 0-5. Hungaria lah yang akhirnya menantang Italia di final. Dari beberapa sumber, dikatakan bahwa penjaga gawang Hungaria diancam oleh orang-orang Mussolini hingga lebih sayang nyawanya dengan membiarkan pemain Italia mencetak gol, sejumlah insiden kecurangan pemain Italia tidak ditegur oleh wasit, termasuk diantaranya dilakukan oleh Giuseppe Meazza, sang kapten, yang menyodok pinggang pemain Hungaria.
Read More

1934 Italia

Piala Dunia dalam iklim fasisme di bawah diktator Benito Mussolini. Kemenangan Italia mungkin patut dipertanyakan lantaran situasi politik dunia waktu itu. Uruguay tidak ikut serta pada edisi kedua ini. Dalam pertandingan final, Gli Azzurri mengalahkan Cekoslovakia, namun Cekoslovakia lah yang mewakilkan pemainnya, Oldrich Nejedly yang menjadi top scorrer
Read More

1930 Uruguay

Impian Presiden FIFA Jules Rimet menjadi kenyataan. Rancangan kejuaraan Piala Dunia sepakbola yang lama ia idam-idamkan terlaksana pada tahun 1930 di Uruguay. Piala Dunia Pertama ini diikuti oleh 13 negara. Semua pertandingan berlangsung di Stadion Centenario, kota Montevideo yang dibangun untuk memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan Uruguay ke-100 (sesuai namanya, Centenario = Centennial). Kebahagiaan rakyat Uruguay semakin lengkap karena tim kesayangannya menjadi juara. Meskipun kalah di final Argentina masih terhibur dengan gelar pencetak gol terbanyak atas nama Guillermo Stabile. Sementara itu Prancis, negara asal Jules Rimet, kebagian momentum unik: Lucien Laurent menjadi pencetak gol pertama kali sepanjang sejarah Piala Dunia.
Read More

Stadion Afrika Selatan 2010






















All the stadium pictures are the courtesy of the FIFA Official Website.
Read More